Beranda Headline Pesisir Utara Karawang Diterjang Banjir Rob, Akses Jalan Terputus

Pesisir Utara Karawang Diterjang Banjir Rob, Akses Jalan Terputus

18
Banjir rob pesisir Utara karawang
Akses jalan terputus akibat banjir rob di Desa Sedari, Karawang. (Foto: Istimewa) 

KARAWANG – Sejumlah wilayah pesisir utara Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dilanda banjir rob sejak Sabtu, 16 Agustus 2025. Genangan air laut itu merendam pemukiman warga, akses jalan, hingga lahan pertanian di beberapa desa.

Wilayah yang terdampak antara lain Desa Cemara Jaya, Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Kecamatan Cilebar, hingga Desa Pusakajaya Utara. Daerah-daerah tersebut memang menjadi kawasan yang kerap dilanda banjir rob setiap tahun.

Baca juga: Truk Fuso Oleng di Karawang, Seorang Warga Tewas Tertabrak

Kepala Desa Cemara Jaya, Rudi Candia, menyebut sedikitnya ada empat dusun di wilayahnya yang terendam banjir rob, yaitu Dusun Cemara 1, Cemara 2, Pisangan, dan Mekarjaya. “Rob sudah berlangsung sejak dua malam terakhir. Biasanya muncul mulai pukul 04.00 hingga 10.00 pagi,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dialami warga Desa Sedari. Sekretaris Desa Sedari, Karyudi Nasution, mengonfirmasi ada tiga dusun yang terdampak, yakni Karangsari, Tanjungsari, dan Tirtasari. “Tidak terlalu parah, tapi di Dusun Tanjungsari akses jalan terputus. Ada sekitar 250 jiwa yang terdampak di dusun itu,” katanya.

Sementara itu, warga Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, menyebut banjir rob kali ini merupakan yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir. “Kalau sekarang sudah agak surut, tapi biasanya sore hari naik lagi. Pasangnya gak bisa diprediksi,” kata Udin (22), warga Dusun Sukamulya.

Warga berharap adanya langkah cepat dari Pemkab Karawang, karena hingga kini bantuan belum juga turun. Sebagian kebutuhan pangan masih dipasok melalui jalur sungai menggunakan perahu sampan.

Baca juga: BPBD Karawang Himbau Warga Pantai dan Sungai Siaga Banjir

Selain merendam jalan dan rumah, banjir rob Karawang juga menimbulkan kekhawatiran soal abrasi. Upaya warga menanam mangrove sejak 2013 tidak cukup kuat menahan gelombang. “Gelombang semakin besar, mangrove banyak yang rusak,” tambah Udin.

Hingga saat ini, masyarakat terdampak di pesisir utara Karawang masih menunggu bantuan pemerintah, baik untuk kebutuhan darurat maupun jangka panjang seperti perbaikan jalan dan program mitigasi abrasi. (*)