Beranda News Pesantren Benteng Adab Penjaga Bangsa

Pesantren Benteng Adab Penjaga Bangsa

4
Ponpes Modern Nurussalam (Foto: Ist)

KARAWANG- Sejarah Indonesia tak bisa dilepaskan dari pesantren. Di balik tembok sederhana dan suara lantunan ayat suci, lahir benih-benih perlawanan dan kebangkitan bangsa. Dari pesantren, para kiai dan santri bukan hanya belajar ilmu agama, tapi juga menanamkan semangat cinta tanah air, kemandirian, dan kejujuran.

Saat penjajah datang, pesantren menjadi benteng moral dan pusat perjuangan. Saat kemerdekaan diraih, pesantren menjadi tempat menumbuhkan kecerdasan dan karakter bangsa.

Pesantren tidak lahir dari kemewahan, tapi dari kesadaran bahwa ilmu harus membumi, dan adab harus menjadi ruh kehidupan. Dari pesantren, lahir manusia yang tidak hanya cerdas pikirannya, tapi juga jernih hatinya.
Manusia yang tahu bagaimana menghormati, membela, dan menjaga martabat kemanusiaan.

Ironisnya, di tengah zaman yang katanya modern, ada yang berani merendahkan pesantren seolah tempat itu tak lebih dari masa lalu yang tak relevan.

Padahal, dari pesantrenlah lahir jiwa-jiwa yang menegakkan kemerdekaan, menjaga moral bangsa, dan menanamkan nilai kejujuran yang tak mampu dibeli oleh kekuasaan.

Negara boleh membangun gedung tinggi dan sistem pendidikan megah,
tapi hanya pesantren yang mampu mencetak manusia beradab, bukan sekadar pintar.
Hanya pesantren yang mengajarkan tanggung jawab moral, bukan sekadar ambisi material.

Dan kini, ketika ada yang dengan bangganya melecehkan pondasi ilmu itu
kita patut bertanya: siapa sebenarnya yang menjaga bangsa ini?

Pesantren yang diam tapi bekerja,
atau mereka yang bicara tapi melukai?
Pesantren bukan menara gading,
ia adalah akar yang menahan bangsa agar tak tumbang.

Maka jangan pernah remehkan tempat suci yang melahirkan manusia berjiwa luhur,
karena ketika adab runtuh, hanya pesantren yang tetap berdiri menjaga Indonesia.

Penulis: Pengurus IKA PMII Karawang, Gandum