
KARAWANG – PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Program Sharp Class bersama SMKN 3 Karawang, Senin (26/1). Penandatanganan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Kerja sama tersebut merupakan bagian dari komitmen Sharp Indonesia dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui sinergi berkelanjutan antara industri dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya di Kabupaten Karawang.
Baca juga: Sharp Bangun SDM Vokasi Unggul Melalui Kolaborasi Industri dan SMK
Customer Satisfaction Head Division PT Sharp Electronics Indonesia, Lise Tiasanty, S.Pd., M.M., menyampaikan bahwa Program Sharp Class merupakan investasi jangka panjang perusahaan dalam mencetak lulusan vokasi yang kompeten dan siap kerja.
“Sharp Class bukan sekadar program pelatihan, tetapi upaya berkelanjutan Sharp untuk berkontribusi langsung dalam mencetak tenaga kerja vokasi yang kompeten dan siap kerja. Program ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memperkuat link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri,” ujarnya.
Penandatanganan MoU tersebut turut disaksikan oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan (KCD) Wilayah IV Provinsi Jawa Barat, Riesye Silvana, S.STP., M.AP., serta jajaran pengawas pendidikan sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap kolaborasi antara industri dan SMK.
Kepala KCD Wilayah IV Jawa Barat, Riesye Silvana, menilai kerja sama antara pendidikan vokasi dan industri sangat penting dalam meningkatkan kualitas lulusan SMK.
“Pertama untuk PKL, kedua untuk peningkatan kompetensi, dan kerja sama lainnya. Intinya, untuk pendidikan vokasi ini sangat bagus dilakukan. Kami sangat mengapresiasi bantuan Sharp karena dapat menambah kompetensi siswa SMKN 3 Karawang,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa tingkat serapan lulusan SMK ke dunia industri di Jawa Barat masih belum optimal. Saat ini, lulusan SMK yang terserap di dunia kerja baru sekitar 40 persen.
“Artinya, link and match antara lulusan SMK dan dunia industri belum sepenuhnya terwujud. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus terus diperbaiki,” katanya.
Menurutnya, sekolah vokasi harus mampu menyesuaikan kurikulum dan kompetensi dengan kebutuhan industri agar lulusan yang dihasilkan benar-benar dibutuhkan.
Program Sharp Class di SMKN 3 Karawang diikuti oleh 25 siswa terpilih dan berlangsung selama dua bulan dengan kurikulum berbasis kebutuhan industri. Materi pembelajaran difokuskan pada teori dan praktik bidang Air Conditioner (AC), yang memiliki permintaan tinggi di sektor elektronik dan jasa layanan.
Selain kompetensi teknis, peserta Sharp Class juga dibekali soft skill seperti pelayanan pelanggan, etos kerja, komunikasi profesional, serta dasar kewirausahaan guna membentuk lulusan yang siap kerja dan mandiri.
Kepala SMKN 3 Karawang, Dra. Ade Mardiah Hayati, M.Pd., menilai Program Sharp Class sebagai model kolaborasi ideal antara industri dan sekolah vokasi.
“Materi yang diajarkan, metode praktik, serta keterlibatan tenaga profesional dari Sharp membantu siswa memahami standar kerja industri yang sesungguhnya. Program ini menjadi bukti nyata kolaborasi industri dan SMK dalam meningkatkan kualitas lulusan,” paparnya.
Baca juga: Bonus Demografi atau Beban? Pemuda Karawang Masih Jadi Angka
Program Sharp Class telah berjalan sejak 2012 dan diterapkan di 24 SMK di berbagai daerah di Indonesia. Hingga saat ini, sebanyak 893 siswa telah mengikuti program tersebut, dengan 83 lulusan bergabung sebagai karyawan Sharp Indonesia, sementara lainnya bekerja di perusahaan nasional, internasional, maupun mengembangkan usaha mandiri.
Melalui keberlanjutan Program Sharp Class, Sharp Indonesia berharap dapat terus berperan aktif dalam mendukung penguatan pendidikan vokasi dan kesiapan tenaga kerja Indonesia menghadapi tantangan industri masa depan. (*)













