Beranda Headline Pentingnya Bela Negara: Tugas Semua Elemen Bangsa di Era Digital

Pentingnya Bela Negara: Tugas Semua Elemen Bangsa di Era Digital

32
Pentingnya Bela negara
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan AIK Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Septa Candra, SH (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Bela negara adalah kewajiban seluruh warga negara Indonesia. Namun, pemahaman mengenai hal ini sering kali masih terbatas pada anggapan bahwa bela negara hanya menjadi tugas TNI, Polri, atau pemerintah. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan AIK Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr. Septa Candra, SH., MH., mengingatkan bahwa bela negara merupakan amanat konstitusi yang berlaku untuk semua lapisan masyarakat.

“Ini amanat UUD dan Undang-Undang tentang Kewajiban Bela Negara. Hal ini berlaku untuk semua warga negara, tidak hanya golongan tertentu,” ujar Dr. Septa usai memberikan materi bela negara di Kampus UBP Karawang, Sabtu, 16 November 2024.

Baca juga: Menghadapi Globalisasi: Pentingnya Wawasan Kebangsaan bagi Generasi Muda

Ia menekankan bahwa implementasi bela negara dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. Misalnya, melestarikan budaya lokal, mengenakan pakaian batik, hingga memfilter budaya asing yang masuk ke Indonesia.

“Bela negara bisa dimulai dari langkah kecil yang sederhana,” tambahnya.

Dr. Septa juga menyoroti pentingnya wawasan kebangsaan dalam mendorong semangat bela negara. Dengan wawasan kebangsaan, masyarakat akan memiliki kecintaan terhadap bangsa, yang menjadi landasan untuk menjaga keutuhan NKRI.

Baca juga: Pj Gubernur Jawa Barat Rapat Koordinasi Bahas Stunting hingga Pariwisata di Karawang

Tantangan Bela Negara di Era Digital

Di era digitalisasi yang serba cepat, tantangan dalam pelaksanaan bela negara semakin kompleks. Teknologi, meski memberikan kemudahan, juga membawa dampak negatif jika tidak digunakan dengan bijak.

Baca juga: Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra: UNSIKA Adakan Beragam Lomba Kreatif untuk Generasi Muda

“Generasi muda harus cerdas dalam memfilter budaya asing dan hal-hal eksternal yang dapat merusak nilai-nilai kebangsaan. Kita harus mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan teknologi,” ungkap Dr. Septa.

Ia menambahkan bahwa self-control atau pengendalian diri menjadi hal krusial untuk menghadapi arus digitalisasi. Jangan sampai kecanggihan teknologi membuat masyarakat kehilangan identitas bangsa dan melupakan kewajiban bela negara.

Baca juga: UBP Karawang Teguhkan Nilai Kebangsaan melalui Kuliah Jatidiri Bangsa

“Nilai-nilai kebangsaan harus tetap dijaga agar budaya kita tidak tergerus. Digitalisasi adalah alat, kita yang harus memanfaatkannya untuk memperkuat NKRI,” pungkasnya. (*)