KARAWANG – Sebanyak 8.861 remaja putri di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tercatat mengalami anemia sepanjang tahun 2024. Angka ini didasarkan pada hasil screening yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Karawang terhadap 33.106 remaja putri dari total sasaran 33.591 orang.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Karawang, Nurmala Hasanah, menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, terdapat 5.247 kasus anemia ringan, 3.268 anemia sedang, dan 346 anemia berat.
Baca juga: SMPN 5 Karawang Barat Resmikan 14 Ruang Kelas dan Fasilitas Baru
“Remaja putri yang normal tetap diberikan satu tablet tambah darah per minggu. Untuk anemia ringan diberikan satu tablet per hari, anemia sedang dua tablet per hari, sedangkan yang anemia berat langsung dirujuk untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Nurmala saat diwawancarai pada Rabu, 15 Januari 2025.
Melalui program Gerakan Remaja Sehat, Keren, dan Cerdas (Gres Kece), Dinkes Karawang memberikan tablet tambah darah kepada para remaja putri di sekolah-sekolah.
Penyebab dan Penanganan Anemia
Menurut Nurmala, anemia pada remaja putri disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kondisi biologis saat menstruasi, pola makan yang tidak sehat, kurang asupan nutrisi, dan kurangnya konsumsi cairan.
“Kami terus mengkampanyekan pentingnya gizi seimbang agar remaja putri di Karawang terbebas dari anemia. Penanganan ini juga berperan penting dalam menekan angka stunting, kematian ibu, hingga kematian bayi,” jelasnya.
Penurunan Angka Anemia yang Signifikan
Angka anemia pada remaja putri di Karawang mengalami penurunan signifikan sejak tahun 2022.
Baca juga: SMAN 2 Cikampek Tegaskan Bebas Iuran, Berbeda dengan SMKN 1 Tirtamulya
“Pada 2022, angka anemia mencapai 47 persen, turun menjadi 33,3 persen pada 2023, dan 26,77 persen pada 2024. Penurunan ini berkat intervensi melalui program nasional dan dukungan APBD,” paparnya.
Untuk tahun 2025, Dinkes Karawang berencana meluncurkan pelatihan kader kesehatan remaja serta menyediakan buku pedoman yang dapat digunakan baik oleh murid maupun orang tua. Program ini diharapkan dapat memperkuat edukasi tentang anemia di lingkungan keluarga dan sekolah. (*)














