Beranda Headline Nyangku Panjalu Ciamis, Upacara Adat Penuh Makna

Nyangku Panjalu Ciamis, Upacara Adat Penuh Makna

25
Nyangku Panjalu
Tradisi Nyangku Panjalu di Ciamis merupakan salah satu warisan budaya Sunda (Foto: net.)

beritapasundan.com – Tradisi Nyangku Panjalu di Ciamis merupakan salah satu warisan budaya Sunda yang hingga kini masih dilestarikan. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Panjalu sebagai bentuk syukur kepada para leluhur, khususnya kepada Prabu Sanghyang Borosngora, seorang raja Kerajaan Panjalu yang terkenal dengan kebijaksanaannya.

Upacara Nyangku biasanya dilaksanakan setiap bulan Maulid pada penanggalan Islam. Tujuan utama tradisi ini adalah membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu, seperti tombak, pedang, dan keris. Pusaka-pusaka tersebut dianggap memiliki nilai sejarah yang tinggi dan diyakini membawa berkah bagi masyarakat setempat.

Baca juga: Sejarah Negara-Negara Termuda: Siapa Saja yang Baru Merdeka?

Ritual Nyangku diawali dengan doa bersama dan prosesi penjemputan pusaka dari Bumi Alit, tempat penyimpanan benda pusaka. Pusaka kemudian dibawa ke Situ Lengkong untuk dicuci menggunakan air dari danau tersebut. Setelah proses pembersihan, pusaka kembali disimpan di Bumi Alit hingga ritual berikutnya.

Tradisi ini juga menjadi ajang pertemuan masyarakat dan keluarga besar Panjalu yang tersebar di berbagai daerah. Selain itu, Nyangku tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Setiap tahun, ribuan orang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan prosesi yang sarat makna ini.

Pelaksanaan Nyangku menunjukkan kuatnya rasa hormat masyarakat Panjalu terhadap leluhur mereka. Tradisi ini menjadi cermin akan pentingnya menjaga warisan budaya, agar nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan terwariskan kepada generasi mendatang.

Baca juga: Langkah Awal Kemandirian: Yayasan Kreasi Tuli Gelar Pelatihan Membatik di Karawang

Melalui Nyangku, masyarakat tidak hanya berusaha merawat benda pusaka, tetapi juga menjaga identitas dan kebanggaan sebagai keturunan Kerajaan Panjalu. (*)