beritapasundan.com – Di tengah hamparan sawah di Jl. Nambo, Gempol, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, terdapat sebuah kampung unik bernama Kampung Salapan. Kampung ini menjadi perbincangan karena keunikan jumlah penduduknya yang tak pernah lebih dari 9 kepala keluarga (KK) atau 27 jiwa. Dulu, kampung ini dikenal sebagai Kampung Babakan, namun sejak tahun 2010 resmi dinamakan Kampung Salapan.
Asal Usul dan Fenomena Unik
Ito Waskito (44), salah satu warga sekaligus juru bicara kampung, mengungkapkan bahwa keunikan jumlah KK ini seperti diatur oleh “seleksi alam.” Ketika jumlah penduduk atau rumah melebihi batas 9 KK atau 27 jiwa, selalu ada peristiwa yang mengembalikan jumlah tersebut ke angka semula.
Baca juga:Â Nekat! Mamah Muda Tabrakan Diri ke Kereta Api di Perlintasan Tanjung Pura Karawang
“Waktu jumlah rumah pernah lebih dari 9, ada beberapa anggota keluarga yang meninggal atau pindah. Seolah-olah ada sesuatu yang menjaga jumlah ini tetap sama,” ungkap Ito.
Jejak Batu Merah Diduga Cagar Budaya
Selain batas jumlah KK, Kampung Salapan juga menyimpan misteri sejarah. Pada tahun 2009, warga menemukan batu bata besar saat menggali untuk mendapatkan sumber air. Batu-batu ini kemudian diteliti oleh tim arkeolog pada 2010 dan diduga berasal dari abad ke-2 atau ke-3. Namun, hingga kini, batu merah tersebut belum diresmikan sebagai cagar budaya.
“Tekstur dan warna batunya mirip dengan batu Candi Jiwa. Sayangnya, daftar silsilah keturunan di kampung ini sudah terputus, sehingga sejarahnya sulit ditelusuri lebih jauh,” tambah Ito.
Mitos Penunggu dan Balong Pengabul Hajat
Kampung Salapan juga dikenal dengan mitos-mitosnya, salah satunya tentang balong (kolam) yang dipercaya mampu mengabulkan hajat. Banyak orang datang dari berbagai daerah, bahkan luar Pulau Jawa, untuk mandi di kolam tersebut. Warga juga melaporkan adanya ikan gabus raksasa di dalam balong, yang kadang muncul dan kadang menghilang.
Selain itu, beberapa warga mengaku pernah melihat penampakan seperti harimau, kakek-kakek, atau sosok tinggi besar bergaya kerajaan zaman dahulu. Hal ini semakin menambah kesan magis kampung ini.
Baca juga:Â Pj Gubernur Jawa Barat Rapat Koordinasi Bahas Stunting hingga Pariwisata di Karawang
Kehidupan Warga Kampung Salapan
Meski penuh misteri, kehidupan sehari-hari warga Kampung Salapan berjalan normal. Sebagian besar bekerja sebagai buruh tani dan tetap menjaga tradisi, seperti ngabungbang atau berkumpul untuk mempererat hubungan sosial.
“Setiap malam Sabtu, kami berkumpul, ngobrol, dan mengadakan tahlil serta shalawat bersama. Ini cara kami menjaga kerukunan di kampung,” kata Ito.
Warga Kampung Salapan bertekad menjaga puing-puing sejarah dan tradisi yang ada, meskipun misteri kampung ini belum sepenuhnya terpecahkan. (*)














