Beranda Headline Menjelang Lebaran, Jasa Penukaran Uang Baru Marak di Karawang

Menjelang Lebaran, Jasa Penukaran Uang Baru Marak di Karawang

74
Penukaran uang baru karawang
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, jasa penukaran uang baru mulai bermunculan di berbagai titik di Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, jasa penukaran uang baru mulai bermunculan di berbagai titik di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Sejumlah penyedia jasa ini terlihat berjejer di sepanjang Jalan Bypass Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat, menawarkan berbagai pecahan uang baru kepada masyarakat.

Para penjual jasa tukar uang ini memajang uang pecahan mulai dari Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, hingga Rp20.000 sebagai daya tarik bagi calon pembeli yang ingin menukar uang untuk kebutuhan Lebaran.

Salah satu penyedia jasa penukaran uang baru yang beroperasi di Karawang, Nurgaya Aritonang (47), mengungkapkan bahwa bisnis ini mulai ramai sejak dua minggu terakhir. Bersama rekan-rekannya, ia berjualan sejak pagi hingga malam di trotoar jalan.

Baca juga: Nelangsa Henny Rumahnya Digusur Jadi Jalan di Karawang, 20 Tahun Tak Dapat Ganti Rugi

“Saya berasal dari Siantar, Medan, kebanyakan penjual di sini juga dari Medan. Tapi kami sudah lama tinggal di Karawang,” ujarnya saat diwawancarai pada Selasa, 25 Maret 2025.

Nurgaya mengaku telah menjalankan usaha jasa tukar uang baru selama lima tahun di Karawang. Setiap menjelang Lebaran, ia bersama suaminya selalu berada di lokasi yang sama, tepatnya di depan kantor DLHK Karawang, karena lokasi tersebut akan semakin ramai saat arus mudik pertama.

Nurgaya menjelaskan bahwa uang yang ia tukarkan merupakan uang asli yang berasal dari Bank Indonesia (BI). Namun, uang tersebut diperoleh dari bandar yang berada di wilayah Cikarang, Bekasi.

Sistem kerja mereka menggunakan skema pinjaman. Misalnya, jika meminjam Rp100 juta, maka ia harus menyetor keuntungan sebesar 1% atau Rp1.000.000 kepada bandar, terlepas dari laku atau tidaknya uang yang ditukarkan.

“Kami biasanya pinjam Rp500 juta, dan harus setor keuntungan Rp5 juta kepada bandar. Jadi, meskipun uang tidak habis, tetap harus dibayar,” katanya.

Dalam transaksi penukaran uang, pelanggan dikenakan biaya admin sebesar Rp15.000 per Rp100.000 yang ditukar. Dari total tersebut, keuntungan bersih yang diperoleh hanya sekitar Rp4.000 per Rp100.000.

“Alhamdulillah, selama ini selalu habis terjual,” tambahnya.

Penjual lainnya, Tika (41), mengatakan bahwa keuntungan yang didapatnya lebih kecil dibandingkan pedagang lain. Dalam satu kali transaksi Rp100.000, ia hanya mendapatkan keuntungan sebesar Rp2.000.

“Kami diberikan modal Rp50 juta untuk dikerjakan, dan uangnya berasal dari Jakarta. Pembeli yang datang biasanya menukar Rp100.000 hingga Rp3 juta,” jelasnya.

Baca juga: Gelandangan Menjamur, PMII Karawang: Bukti Lemahnya Penegakan Perda

Salah seorang pembeli, Ratna (35), mengaku sudah sering menukar uang baru di pinggir jalan karena lebih praktis.

“Saya dari Rawamerta, setiap tahun tukar uang di sini karena lebih mudah. Dan ini uang asli, jadi saya percaya,” ujarnya.

Dengan meningkatnya permintaan uang baru menjelang Lebaran, bisnis jasa tukar uang di Karawang terus berkembang. Para penyedia jasa ini memanfaatkan momentum untuk meraup keuntungan, meskipun sistem kerja mereka bergantung pada bandar sebagai penyedia modal utama. (*)