Beranda Headline Menjamur di Jalur Mudik Karawang, Warung Dadakan Jadi Andalan Pemudik

Menjamur di Jalur Mudik Karawang, Warung Dadakan Jadi Andalan Pemudik

61
Warung dadakan karawang
Menjelang arus mudik Lebaran 2025, warung dadakan (wardak) kembali bermunculan di sepanjang jalan baru Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Menjelang arus mudik Lebaran 2025, warung dadakan (wardak) kembali bermunculan di sepanjang jalan baru Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Keberadaan warung-warung ini sudah menjadi tradisi tahunan, menawarkan makanan dan minuman bagi pemudik yang melintas.

Warung dadakan kerap menjadi tempat istirahat sementara bagi para pemudik. Ramdan (24), salah satu pedagang warung dadakan, mengaku mulai membuka lapaknya sejak Senin, 24 Maret 2025, bersama saudaranya, Nurali (24).

“Rumah saya di seberang, saya dan saudara masih orang sini. Jualan ini modalnya dari kakak, nanti hasilnya dibagi dua,” ujar Ramdan.

Baca juga: Menjelang Lebaran, Jasa Penukaran Uang Baru Marak di Karawang

Menurutnya, warung dadakan yang mereka kelola beroperasi selama 24 jam. Dalam seminggu, mereka bisa meraup keuntungan lebih dari Rp1.000.000. “Biasanya saya sama saudara yang jaga di sini dikasih 500 ribu – 500 ribu, selebihnya disetorkan ke kakak yang modalin,” jelasnya.

Meski warung dadakan memberikan penghasilan tambahan bagi para pedagang musiman, keberadaannya kerap menjadi sasaran penertiban Satpol PP Karawang. Setiap menjelang Lebaran, para pedagang menerima surat peringatan untuk membongkar lapak mereka.

“Sekarang warung-warung dadakan baru pada buka. Nanti pas arus mudik ramai, suka dikasih kertas sama Satpol PP, disuruh bongkar dalam waktu 15 hari,” ungkap Nurali.

Baca juga: Nelangsa Henny Rumahnya Digusur Jadi Jalan di Karawang, 20 Tahun Tak Dapat Ganti Rugi

Ia dan Ramdan selalu mengantisipasi pembongkaran dengan membongkar warungnya sendiri sebelum petugas datang. “Pas ada jadwal Satpol PP mau bongkar, kita langsung bongkar sendiri,” tambahnya.

Warung dadakan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi mereka. Di luar musim mudik, Ramdan dan Nurali biasanya bekerja sebagai buruh proyek dengan upah harian sekitar Rp140.000. “Hasil dari warung juga lumayan untuk tambah-tambah pemasukan,” tutup Nurali. (*)