Beranda News Kisah Ibu Ida Guru SDN Telarsari 2, 18 Tahun Mengabdi Jadi Honorer 

Kisah Ibu Ida Guru SDN Telarsari 2, 18 Tahun Mengabdi Jadi Honorer 

15
Guru honorer
N.Idawatu Siron (57), Guru SDN Telarsari 2 Kecamatan Jatisari (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Menjadi guru adalah sebuah pekerjaan mulia, peran dan keberadaannya sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bisa kita bayangkan, apa jadinya dunia ini tanpa kehadiran mereka (para guru), tentu kebodohan akan merajalela.

Namun, sebagian guru berstatus honorer harus menerima kenyataan, bahwa kinerjanya tak terbayarkan secara layak.

Baca juga: Pelayanan Puskesmas Kotabaru Dinilai Buruk, Balita Digigit Ular Dikasih Obat Luka

Banyak sekali potret guru honorer di Indonesia, mereka memiliki pengalaman kurang lebih sama. Yakni, menerima upah tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang telah disumbangsihkan.

Berbincang dengan salah satu guru honorer PAI di Kabupaten Karawang, namanya N.Idawatu Siron (57). Ia telah menjalani kehidupan menjadi guru honorer selama 18 tahun lamanya.

“Dari Juli 2006 di SDN Telarsari 2 Kecamatan Jatisari, sekarang udah mau pensiun honorer, umur sudah 57,” ujarnya saat diwawancarai pada Senin, 10 Juni 2024.

Ida menuturkan, selama 18 tahun menjadi guru honorer. Ia pernah mendapatkan gaji hanya sebesar Rp10.000 – Rp50.000 saja dalam sebulan.

Setiap tahunnya ada penambahan meskipun sedikit, dan di tahun 2024 kini, gajinya berada di angka Rp700.000 perbulan.

“Baju (seragam) sama, jam kerja sama, tapi nominal bulanannya berbeda (antara guru honorer dan bukan),” katanya.

Ia mengaku kerap merasa sedih jika guru baru lulus PPPK, sedangkan dirinya masih bertahan dengan status honorer di usia tua.

“Tantangannya itu ketika guru baru pada lulus PPPK jadi sedih dan ciut karena saya udah tua masih honor,” ungkapnya.

“Kisah dari awal honorer sangat prihatin, tahun 2006 saya harus jalan kaki menempuh jarak 1,2 km. Dulu jalannya jelek, sedih kalo musim hujan dari rumah pake jas hujan, nyampe sekolah basah kuyup,” tambah Ida.

Meskipun begitu, Ida tetap bertahan karena beberapa alasan. Pertama, ia ingin mengabdikan diri untuk ikhlas mengajar. Kedua, ia pun masih berharap, ada kesempatan untuknya lolos PPPK, sebelum masa pensiun.

“Saya berharap sekali di usia yang sudah tua ini lolos jadi guru PPPK, pengen sekali ngerasain gajian pake slip gaji,” tuturnya.

Sementara ini, Ida mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari hasil bekerja sebagai guru, dan melakukan pekerjaan sampingan lain seperti menjual buras dan martabak telor.

Baca juga: Saber Pungli Minta SMPN 1 Kotabaru Karawang Kembalikan Uang Pungutan PPDB ke Orangtua Siswa

Ida juga bersyukur karena dirinya terpilih menjadi guru honorer yang mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah sebesar Rp1.000.000 setiap 3 bulan sekali.

“Saya dapat karena masa kerjanya sudah 15 ke atas,” terang Ida.

Meskipun begitu ia berharap, semua guru honorer khususnya bidang PAI di Karawang bisa terangkat semua menjadi PPPK. “Mohon kepada yang berwenang dari Pemerintah Daerah dan Pusat untuk mengangkat semua guru honorer (PAI) Karawang,” tandasnya. (*)