
KARAWANG – Di tengah teriknya siang dan padatnya lalu lintas kota Karawang, seorang lelaki renta tampak berjalan perlahan sambil menawarkan lembaran buku gambar kepada setiap orang yang ditemuinya. Dialah Abah Oma, penjual buku jalanan yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup di jalanan Karawang.
Dengan wajah letih namun langkah yang tetap tegap, Abah Oma menjadi potret kegigihan warga kecil Karawang yang bertahan hidup di tengah perubahan zaman. Buku gambar dan alat tulis yang ia jajakan bukan sekadar barang dagangan, melainkan simbol perjuangan seorang penjual buku jalanan.
Dari Penjual Koran ke Penjual Buku Jalanan
Sebelum dikenal sebagai penjual buku jalanan, Abah Oma merupakan penjual koran sejak tahun 1965. Kala itu, koran menjadi sumber utama informasi masyarakat Karawang. Ia mengenang masa ketika kota masih lengang, kendaraan belum padat, dan pembeli koran selalu menanti di pinggir jalan.
Baca juga: Jelang 2026, Larangan Petasan di Karawang Tuai Beragam Respons Warga
“Dulu dagang koran rame. Kota dijual tilu perak, Kompas oge tilu perak. Jaman perak,” kenang Abah Oma sambil tersenyum.
Dengan sistem kepercayaan dari agen, Abah Oma berkeliling dari kawasan Yatmin, Soto Dipo, GOR Panatayudha hingga Samsat Karawang, menyampaikan kabar bagi warga. Namun seiring perkembangan teknologi, koran cetak mulai ditinggalkan.
Kondisi itu memaksa Abah Oma beralih profesi menjadi penjual buku jalanan, menjajakan buku anak, buku gambar, dan alat tulis sederhana. “Sekarang jual buku gambar lima rebu, pensil gambar dua puluh rebu. Tapi sepi. Kadang buat makan oge hese,” ujarnya lirih.
Perjuangan Hidup di Usia Senja
Setiap hari, Abah Oma berangkat dari Tegal Sawah menuju kawasan Johar. Ongkos angkot Rp5.000 dan ojek Rp20.000 menjadi biaya rutin yang harus ia tanggung. Modal membeli buku gambar berkisar Rp50.000 hingga Rp100.000, jumlah yang cukup besar bagi seorang penjual buku jalanan.
Ia tak hanya berjualan di lampu merah, tetapi juga berkeliling ke sekolah-sekolah dan kawasan Bojong Loak. Meski penghasilan tak menentu, Abah Oma memilih tetap bertahan di jalanan Karawang.
Beban hidup semakin berat setelah sang istri wafat akibat penyakit lambung dan diabetes. Ia mengaku tidak memiliki saudara maupun rumah pribadi. Kini, Abah Oma tinggal bersama anak, menantu, dan tiga cucunya.
Baca juga: Delapan Infrastruktur Diresmikan, Pemkab Karawang Tegaskan Komitmen Pelayanan Publik
Bantuan pemerintah yang dulu sempat diterima, seperti BLT dan bantuan beras, kini sudah tidak lagi ia dapatkan sejak pindah tempat tinggal. Meski demikian, semangat Abah Oma tak pernah padam.
“Abah mah gak mau mengemis. Lebih baik jadi penjual buku jalanan, daripada jadi pengemis,” ucapnya tegas.
Di tengah kerasnya hidup, Abah Oma tetap berdiri dengan martabat. Setiap buku yang ia tawarkan adalah saksi keteguhan hati seorang penjual buku jalanan Karawang yang menolak menyerah pada keadaan. (*)













