KARAWANG – Di tengah derasnya tren kuliner modern, seorang ibu rumah tangga di Karawang membuktikan bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Dialah Sartikah (34), perajin kembang ros, camilan lawas khas kampung yang kini populer kembali berkat sentuhan personal dan strategi digital.
Camilan kembang ros milik Sartikah dikenal dengan nama unik “Sorodot Jempol”, yang berasal dari teknik pembentukannya.
“Dinamakan sorodot jempol karena adonannya ditekan pakai jempol, disorodot sampai bentuknya menyerupai bunga,” jelasnya sambil tersenyum.
Baca juga: PWI Karawang Peduli dan Pindo Deli Salurkan Bantuan Buku ke SDN Karangligar 1
Produksi Tradisional, Mengandalkan Cuaca
Setiap minggunya, Sartikah bisa memproduksi kembang ros sebanyak tiga hingga empat kali, tergantung kondisi cuaca. Proses pengeringan masih mengandalkan sinar matahari langsung.
“Kalau cerah, bisa produksi terus. Tapi kalau hujan, ya terhambat,” ujarnya.
Dibuat dari campuran tepung beras dan sagu, camilan ini memiliki rasa gurih renyah yang khas dan kualitas terjaga, menjadi simbol pelestarian kuliner tradisional.
“Saya belajar bikin kembang ros dari mertua. Ini warisan kampung, sayang kalau dibiarkan hilang,” tuturnya.
Jualan Lewat Facebook, Laris Jelang Lebaran

Untuk pemasaran, Sartikah memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan berbagai platform jual beli makanan lokal. Rata-rata omzet bulanan mencapai Rp500.000 hingga Rp1.000.000, namun bisa melonjak saat Ramadan dan menjelang Lebaran.
“Kalau Lebaran ramai banget. Banyak yang pesan buat suguhan,” katanya.
Baca juga: BNN Karawang Ajak Stakeholder Perangi Peredaran Gelap Narkotika
Kirim ke Luar Kota Lewat Ojek Online
Tak hanya di Karawang, peminat kembang ros Sorodot Jempol juga datang dari Bekasi, Cikarang, hingga luar daerah. Pengiriman dilakukan menggunakan layanan ojek daring untuk menjangkau konsumen di luar kota.
Bertahan dengan Rasa dan Kualitas
Meski persaingan antar pelaku UMKM kuliner Karawang cukup ketat, Sartikah tetap optimis. Kunci usahanya bertahan adalah konsistensi rasa dan bahan berkualitas.
“Saya utamakan rasa dan kualitas. Biar pelanggan nggak pindah ke lain,” ujarnya.
Ia pun berharap ke depan lebih banyak masyarakat mengenal kembang ros Sorodot Jempol dan ikut menjaga eksistensinya.
“Semoga makin dikenal dan tetap hidup, walau cuma makanan kampung,” harapnya. (*)














