Beritapasundan.com- Ketegangan geopolitik global yang kian memanas dan meningkatnya risiko konflik berskala luas memicu kekhawatiran akan pecahnya Perang Dunia 3.
Dalam situasi ekstrem seperti ini, stabilitas ekonomi dan pasar modal cenderung terguncang. Namun, sejarah membuktikan bahwa beberapa sektor saham justru cenderung bertahan, bahkan menguat saat dunia berada dalam kondisi perang.
Berikut adalah sektor-sektor saham yang dinilai layak dimiliki saat terjadi perang besar:
1. Sektor Pertahanan dan Industri Militer
Saham perusahaan yang bergerak di bidang produksi senjata, kendaraan tempur, sistem pertahanan, dan teknologi militer seperti Lockheed Martin, Northrop Grumman, atau Rheinmetall biasanya mengalami lonjakan permintaan saat perang terjadi. Di Indonesia, saham seperti PT Pindad (jika sudah IPO) atau perusahaan terkait pertahanan nasional patut diperhatikan.
Baca juga: PT Chandra Daya Investasi (CDIA) Milik Prajogo Pangestu Resmi Melakukan IPO
2. Sektor Energi
Perang seringkali memicu lonjakan harga minyak dan gas. Perusahaan-perusahaan energi seperti ExxonMobil, Chevron, atau sektor energi nasional seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) bisa mendapatkan keuntungan dari naiknya harga komoditas energi.
3. Sektor Bahan Pokok (Consumer Staples)
Permintaan terhadap barang kebutuhan dasar seperti makanan, minuman, dan obat-obatan cenderung stabil atau meningkat saat krisis. Perusahaan seperti Unilever, Indofood CBP (ICBP), dan Kalbe Farma (KLBF) memiliki potensi menjadi tempat berlindung investor karena ketahanannya terhadap gejolak ekonomi.
4. Sektor Teknologi Keamanan dan Siber
Dalam perang modern, perang siber menjadi medan tempur baru. Perusahaan yang menyediakan keamanan digital, sistem enkripsi, dan infrastruktur siber akan sangat dibutuhkan. Di tingkat global, saham seperti CrowdStrike atau Palo Alto Networks bisa diandalkan.
Baca juga: Catat! Ini Jadwal Cum Date dan Pembayaran Dividen PTBA
5. Sektor Logistik dan Infrastruktur Strategis
Distribusi dan mobilisasi sumber daya menjadi krusial dalam situasi perang. Perusahaan logistik, pelabuhan, dan infrastruktur transportasi berpotensi mendapatkan peran strategis. Contohnya di Indonesia adalah PT Jasa Armada Indonesia (IPCM) dan PT Pelindo (jika sudah melantai di bursa).
Investor perlu bersikap selektif.
Saat perang, pasar tidak hanya bergejolak, tetapi juga sangat tidak rasional. Fokuslah pada sektor yang memiliki permintaan jangka panjang dan berperan vital dalam ketahanan negara.
Meskipun perang bukanlah kondisi yang diharapkan, kesiapan menghadapi skenario terburuk menjadi bagian penting dari strategi investasi. Diversifikasi dan fokus pada sektor-sektor yang bertahan di tengah krisis menjadi langkah cerdas untuk melindungi nilai portofolio.














