KARAWANG – Perayaan Tahun Baru Imlek bukan hanya menjadi momen sukacita, tetapi juga waktu untuk menelusuri jejak sejarah. Di Karawang, terdapat situs yang diyakini berkaitan dengan peristiwa Geger Pecinan abad ke-17 di Karawang, yakni Ban Lin Tan yang berada di kawasan Kelenteng Sian Jin Ku Poh, Tanjungpura.
Sejarawan Karawang, Dharma Gaotama, menjelaskan bahwa Ban Lin Tan Karawang memiliki keterkaitan dengan pemberontakan etnis Tionghoa terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang terjadi di Batavia pada kisaran akhir 1600-an.
“Periode waktunya kurang lebih akhir 1600-an, setelah VOC menguasai wilayah ini. Pemberontakan orang-orang Tionghoa di Jakarta itu sebagian melarikan diri ke arah timur, dan mereka berhenti di Tanjungpura,” ujarnya, Selasa (17/2).
Baca juga: Kunjungan Buyer Irlandia, Karrasi19 Karawang Bidik Pasar Eropa
Menurutnya, Tanjungpura sejak dahulu dikenal sebagai kawasan Pecinan dan pusat perdagangan. Para pengungsi dari Batavia kemudian berkumpul dan bergabung dengan pasukan Mataram untuk melawan VOC. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai bagian dari Geger Pecinan abad ke-17 di Karawang.
Namun perlawanan tersebut berakhir tragis. Pasukan VOC mengejar hingga ke Tanjungpura dan terjadi pembantaian besar. Para korban dimakamkan secara massal di satu lokasi yang kini diyakini sebagai Ban Lin Tan Karawang.
“Asal-usul nama Ban Lin Tan salah satunya diartikan sebagai 10 ribu orang yang dimakamkan dalam satu lubang yang sama. Konon, korban terdiri dari etnis Tionghoa dan pribumi,” jelas Dharma.
Berdasarkan penelusuran arsip kolonial Hindia Belanda, orang-orang yang dimakamkan di Ban Lin Tan Karawang memiliki keterkaitan dengan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Catatan tersebut menjadi bukti penting sejarah Geger Pecinan abad ke-17 di Karawang.
Lokasi Ban Lin Tan Karawang berada tidak jauh dari Kelenteng Sian Jin Ku Poh, yang disebut sebagai salah satu kelenteng tertua di Jawa Barat. Keberadaannya diperkuat dengan artefak hiolo atau tempat dupa yang dibawa langsung dari Tiongkok pada masa lampau.
Akulturasi Budaya di Ban Lin Tan
Selain sebagai situs sejarah, Ban Lin Tan Karawang juga menjadi simbol akulturasi budaya. Dahulu bangunannya sederhana dengan altar dan aksara Tiongkok. Kini, situs tersebut telah direnovasi menjadi bangunan permanen dan dirawat oleh yayasan setempat.
Menariknya, selain ritual tahunan tradisi Tionghoa untuk mendoakan arwah leluhur, lokasi ini juga digunakan untuk kegiatan Maulid oleh umat Muslim setempat. Hal ini menunjukkan adanya pertemuan budaya antara Tionghoa Muslim dan Tionghoa non-Muslim.
“Di situ sudah terjadi akulturasi antara masyarakat Tionghoa Muslim dan Tionghoa non-Muslim. Jadi bukan hanya tempat sejarah, tapi juga simbol kebersamaan,” kata Dharma.
Situs Ban Lin Tan Karawang terbuka untuk umum dengan izin pengelola kelenteng. Meski demikian, tradisi ziarah disebut mulai berkurang seiring minimnya generasi penerus yang melanjutkan tradisi tersebut.
Baca juga: Musrenbang Kecamatan Telukjambe Timur 2026 Fokus Pembangunan 2027
Dharma menegaskan, jika berbicara tentang perlawanan terhadap kolonial yang memiliki bukti kuat di Karawang, maka Ban Lin Tan Karawang menjadi salah satu jejak penting Geger Pecinan abad ke-17 di Karawang.
Di tengah semarak lampion dan perayaan Imlek, kisah Geger Pecinan abad ke-17 di Karawang melalui situs Ban Lin Tan menjadi pengingat bahwa sejarah Tionghoa di Karawang bukan hanya tentang perdagangan, tetapi juga tentang perjuangan, pengorbanan, dan akulturasi yang membentuk wajah keberagaman hingga kini. (*)














