
KARAWANG – Ketua Umum Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia, Dr. H. Komarudin Kudiya, M.Ds, memperkenalkan inovasi baru di bidang pengolahan limbah batik dengan menciptakan alat bernama Nano Oksimic Micro Babel Generator (NOMBG). Alat ini dirancang untuk mengolah air limbah batik yang kotor dan berwarna keruh menjadi air bersih yang aman digunakan.
Baca juga: Yayasan Batik Jawa Barat Dukung Karawang Sebagai Pusat Batik dengan Uji Coba IPAL Ramah Lingkungan
Saat berkunjung ke Workshop Batik Putri Sanggabuana di Karawang pada 9 September 2024, Komarudin menjelaskan bahwa teknologi NOMBG mampu membantu industri batik dalam mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah batik. “Bertahun-tahun saya terlibat dalam dunia batik, limbah adalah masalah yang tidak terhindarkan. Melalui alat ini, saya berharap dapat berkontribusi pada lingkungan yang lebih bersih,” ujarnya.
Proses pengembangan teknologi ramah lingkungan ini telah dimulai sejak tahun 2023, saat Komarudin bersama timnya fokus mencari solusi untuk mengubah limbah beracun menjadi air bersih. Selain itu, pengalamannya dalam menulis buku tentang batik ramah lingkungan yang didukung oleh Kementerian Perindustrian semakin memotivasinya untuk menciptakan alat yang praktis dan efektif.
Menurut Komarudin, cara kerja NOMBG melibatkan serangkaian langkah mulai dari penempatan air limbah dalam bak-bak khusus yang diisi dengan material alami seperti arang, injuk, bata merah, dan arang jahe. Air limbah kemudian diproses menggunakan teknologi aerasi yang menghasilkan gelembung-gelembung udara, yang bertugas memisahkan kotoran dari air hingga berubah menjadi air bening.
Air hasil proses ini, meskipun belum layak minum, dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti mencuci, mengairi sawah, dan kolam ikan. “Airnya aman untuk digunakan, bahkan ikan pun tidak akan mati jika ditempatkan di dalamnya,” tambahnya.
Saat ini, alat NOMBG telah diproduksi sebanyak 10 unit dan sudah diterapkan di Provinsi Jambi. Pada tahun 2025, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jawa Barat direncanakan akan membeli alat ini dengan harga sekitar Rp30 juta per unit.
Baca juga: KOPRI PMII Karawang Desak Kemeneg Buat Satgas PPKS di Pondok Pesantren
Selain NOMBG, Komarudin juga telah menciptakan beberapa inovasi teknologi lainnya untuk industri batik seperti futonik batik, pendulum batik, pendulum mekanik, dan pendulum android, memperkuat posisi Jawa Barat sebagai pelopor dalam teknologi batik di Indonesia.
“Walaupun asal batik bukan dari Jawa Barat, tapi untuk teknologi, kita lebih unggul,” tutup Komarudin. (*)













