Beranda Headline Hanya Terima 10 Siswa, SMK Pendekar Jadi Cahaya Bagi Anak Putus Sekolah

Hanya Terima 10 Siswa, SMK Pendekar Jadi Cahaya Bagi Anak Putus Sekolah

33
SMK Pendekar
SMK Pendekar Karawang (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Kebijakan Gubernur Jawa Barat tentang pembatasan rombongan belajar (rombel) hingga 50 siswa per kelas di sekolah negeri membawa dampak serius bagi keberlangsungan banyak sekolah swasta. Di Kabupaten Karawang, tak sedikit sekolah swasta mengalami krisis murid dan nyaris tak mampu membuka kelas baru.

Namun di tengah situasi tersebut, SMK Pendekar Karawang tetap eksis dan teguh dalam misi sosialnya: menjadi tempat belajar bagi anak-anak putus sekolah dan mereka yang berasal dari keluarga prasejahtera.

Tahun ajaran 2025/2026, SMK Pendekar hanya mampu menerima 10 siswa baru—turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 16 siswa. Meski begitu, semangat pengabdian tak surut. Kepala SMK Pendekar, Suhela Maelila, menegaskan bahwa sekolah ini tidak berfokus pada jumlah, melainkan pada kebermanfaatan.

Baca juga: SMAN 1 Karawang Borong Prestasi Nasional dan Internasional di 2025

“Dari dulu memang siswa kami sedikit. Fokus kami bukan kuantitas, tapi siapa yang benar-benar ingin sekolah walau terbentur biaya,” ujar Suhela.

Berbeda dengan banyak sekolah swasta yang menunggu limpahan siswa dari sekolah negeri, SMK Pendekar justru melakukan pendekatan proaktif. Mereka mencari anak putus sekolah secara langsung dengan menggandeng RT, RW, hingga PSN di kelurahan setempat.

“Kami jemput bola. Cari anak-anak yang ingin sekolah, tapi nggak bisa karena faktor ekonomi. Sekolah ini hadir buat mereka,” lanjut Suhela.

Saat ini SMK Pendekar hanya membuka satu jurusan, yaitu Akuntansi. Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) tidak dibuka karena minimnya peminat. Namun, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tetap berjalan penuh semangat, walau hanya diikuti 10 siswa baru.

Dengan fasilitas terbatas dan biaya operasional minim, sekolah ini tetap berupaya memberikan pembelajaran bermakna. Salah satu program unggulan adalah Jumat Berkas, yaitu praktik administrasi yang dilakukan langsung oleh siswa bersama guru.

“Kami memang nggak punya banyak, tapi kami berusaha maksimal dengan yang ada,” kata Suhela.

Meski kecil, lulusan SMK Pendekar telah banyak yang berhasil. Beberapa bekerja di koperasi dan perusahaan swasta, bahkan ada yang lolos menjadi anggota TNI dan Polri. Salah satu cerita inspiratif datang dari Elsa, siswi yang sempat putus sekolah dan berjualan nasi kepal untuk membantu orang tua. Kini, ia kembali menata masa depan lewat pendidikan di SMK Pendekar.

Baca juga: Wakil Ketua DPRD Karawang Salurkan Bantuan PIP ke Siswa SDN Mekarjati 2

Namun, di balik semangat yang besar, sekolah ini masih menggantungkan harapan kepada pemerintah.

“Kalau bantuan, paling BOS dan BPMU saja. Harapannya, semoga tetap ada perhatian untuk sekolah-sekolah kecil seperti kami,” pungkas Suhela.

Dengan jumlah siswa yang hanya belasan, SMK Pendekar telah membuktikan bahwa keberadaan sekolah swasta kecil tetap penting—terutama bagi anak putus sekolah yang masih ingin mengejar cita-cita. (*)