Beranda Headline Guru Besar UIN: Modal Sosial Jadi Kunci Tekan Kemiskinan Petani

Guru Besar UIN: Modal Sosial Jadi Kunci Tekan Kemiskinan Petani

8
Guru besar uin
Achmad Tjachja Nugraha menegaskan, modal sosial seperti gotong royong dan koperasi menjadi strategi ampuh dalam menekan angka kemiskinan di kalangan petani. (Foto: Istimewa) 

beritapasundan.com – Guru Besar Ekonomi Pertanian, Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah, Achmad Tjachja Nugraha, mengajak masyarakat untuk memperkuat jejaring gotong royong atau modal sosial sebagai strategi efektif dalam memperlambat peningkatan angka kemiskinan, khususnya di pedesaan.

Menurutnya, modal sosial mencakup nilai, norma, kepercayaan, serta jaringan hubungan informal antarindividu dalam masyarakat yang memungkinkan kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Konsep ini sejalan dengan rangkaian peringatan Hari Tani ke-65, di mana petani merayakan hasil produksi yang dicapai selama ini.

Baca juga: KPAD Karawang: 476 Kasus Baru HIV Ditemukan Sepanjang Januari–Agustus 2025

“Perspektif modal sosial adalah memperkuat kepercayaan, solidaritas, dan institusi lokal seperti kelompok tani. Itu menjadi penguat produksi sekaligus menggerakkan roda ekonomi,” ujar Tjachja Nugraha, Kamis (25/9/2025).

Ia menegaskan bahwa modal sosial merupakan kunci dalam menurunkan angka kemiskinan di kalangan petani. Konsep ini menghadirkan refleksi berupa kepercayaan, jaringan, dan norma kolektif yang relevan dengan semangat gotong royong.

Sebagai contoh, ia menyinggung tradisi Meuseiuraya di Aceh, yaitu praktik membangun rumah atau menggarap sawah secara bergotong royong. Tradisi itu terbukti berperan besar ketika Aceh dilanda tsunami 2004, di mana masyarakat segera memobilisasi diri sebelum bantuan formal datang.

“Modal sosial seperti ini berfungsi sebagai mekanisme adaptasi terhadap bencana maupun kemiskinan struktural. Hal serupa juga ada di Sumatera Barat, Pulau Jawa, Bali, NTT, dan Papua,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya modal sosial dalam pembangunan sektor pertanian, mulai dari kelompok tani, koperasi pertanian, hingga lumbung desa. Namun, ia mengingatkan bahwa program pembangunan pertanian kerap lebih menekankan bantuan fisik, seperti benih atau pupuk, tanpa memperkuat kelembagaan sosial petani.

“Tanpa kepercayaan dan kolaborasi antarpetani, bantuan itu sering tidak berkelanjutan,” katanya.

Tjachja juga menilai konsep modal sosial sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita, terutama terkait pembangunan desa dari desa. Menurutnya, penguatan koperasi merah putih dan sekolah rakyat merupakan langkah strategis dalam memutus rantai kemiskinan.

Baca juga: MUI Karawang Tolak THM Holywings, Ingatkan Ancaman Pergaulan Bebas dan HIV/AIDS

“Sekolah rakyat adalah terobosan pemerintah yang harus kita dukung bersama. Program ini sangat kental dengan penguatan petani, pertanian, dan desa melalui jalur pendidikan,” ujarnya.

Ia menutup dengan pesan agar pemerintah memberi perhatian serius pada upaya membangun dan memperkuat modal sosial di tingkat rumah tangga dan komoditas lokal, serta fokus pada masyarakat yang masih lemah dari sisi jaringan sosial dan partisipasi.

“Pembangunan pedesaan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sebaiknya diarahkan untuk memperkuat kelembagaan lokal,” pungkasnya. (*)