Raka menatap keluar jendela kereta, menyaksikan pemandangan sore yang berubah menjadi gelap seiring waktu. Kereta yang ia naiki menuju kota kecil bernama Sukamulyo, sebuah tempat yang tak begitu terkenal, namun penuh kenangan masa kecilnya. Raka kembali ke sana setelah sekian lama, dengan harapan dapat menemui seseorang dari masa lalunya yang mengundangnya tanpa penjelasan lebih lanjut. Pesannya singkat, “Datanglah ke Sukamulyo, ini penting,” tanpa menyebutkan nama pengirim.
Kereta itu mulai terasa aneh saat melewati sebuah terowongan panjang. Udara di dalam gerbong mendadak dingin, jauh lebih dingin daripada seharusnya di malam musim kemarau. Raka melihat ke sekeliling, mendapati para penumpang terlihat terdiam dengan wajah pucat. Beberapa orang tampak memejamkan mata, seakan tertidur, namun ada sesuatu yang ganjil dari mereka. Gerbong itu terasa sunyi, padahal baru beberapa menit yang lalu masih terdengar riuh.
Raka memutuskan untuk berjalan ke gerbong lain, mencari kondektur atau siapa saja yang bisa memberinya informasi. Saat ia melangkah ke gerbong sebelah, suara roda kereta yang berderak di rel tiba-tiba terdengar semakin pelan, seolah-olah kereta ini sedang berhenti di tempat yang tidak seharusnya. Namun, saat Raka melihat ke jendela, kereta terus melaju melalui kegelapan.
Di gerbong berikutnya, Raka melihat sosok wanita tua duduk sendirian. Wajahnya tirus dan matanya kosong menatap lurus ke depan. Raka merasa ada yang familiar dengan wanita itu, namun ia tak bisa mengingat di mana pernah bertemu dengannya. Saat ia mendekat, wanita itu berbisik, “Jangan pergi ke Sukamulyo.”
Raka tersentak. “Apa maksud ibu?”
Wanita itu tak menjawab, hanya menunduk sambil menggenggam erat tasnya. Raka merasa jantungnya berdegup semakin cepat. Ia tak mengerti, namun firasatnya mengatakan ada sesuatu yang salah.
Beberapa saat kemudian, kereta tiba-tiba berhenti di stasiun yang seharusnya tidak ada di jadwal. Stasiun itu tampak kuno dan hampir tak terawat, dengan papan nama yang sudah luntur dan tak terbaca. Pintu gerbong terbuka, tapi tidak ada satu pun penumpang yang bergerak. Raka, didorong oleh rasa penasaran dan ketakutan yang samar, melangkah turun. Suasana di luar terasa begitu sunyi, hanya angin malam yang sesekali berdesir.
Saat ia melangkah lebih jauh, Raka merasa tanah di bawah kakinya seperti berubah menjadi lembek, hampir seperti lumpur. Di kejauhan, ia melihat bangunan tua yang seperti bekas pabrik atau gudang, dikelilingi oleh kabut tebal.
Baca juga: Bisikan Hutan Terlarang
Langkah Raka terhenti ketika suara pelan terdengar di belakangnya. “Raka…,” suara itu memanggil namanya. Ia berbalik dan melihat sosok yang samar di kejauhan, berdiri di dekat kereta yang masih berhenti di peron.
Sosok itu mulai mendekat, dan seketika Raka merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Ketika sosok itu semakin dekat, Raka mengenali wajahnya. Itu adalah dirinya sendiri, tapi dengan ekspresi kosong dan mata yang dipenuhi kegelapan.
Tanpa sadar, Raka mundur perlahan, napasnya tersengal. “Apa ini…?” desisnya, ketakutan mulai merayapi tubuhnya.
Sosok yang menyerupai dirinya itu berhenti tepat di hadapannya, menatapnya dalam diam, lalu berbisik, “Kamu tak seharusnya datang ke sini.”
Tiba-tiba, teriakan keras terdengar dari arah kereta. Penumpang-penumpang yang tadinya diam kini mulai bangkit, bergerak dengan gerakan kaku dan aneh, mendekat ke arahnya. Mereka semua terlihat seperti mayat hidup, wajah-wajah mereka yang dulu pucat kini berubah mengerikan.
Raka berlari sekuat tenaga menuju kereta, tapi pintu-pintu sudah tertutup rapat. Tanpa pilihan lain, ia berlari ke arah hutan di sekitar stasiun, berharap bisa menemukan jalan keluar.
Namun, semakin ia berlari, semakin hutan itu terasa tidak berujung. Bayangan-bayangan kelam mulai memburunya dari segala arah. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah pohon besar dengan lubang di tengahnya. Terdesak dan putus asa, Raka memutuskan untuk masuk ke dalam lubang itu.
Di dalam, kegelapan menyambutnya. Tiba-tiba, suara gemuruh kereta terdengar kembali, dan Raka terlempar ke belakang.
Saat ia membuka matanya, ia kembali duduk di dalam gerbong. Penumpang di sekitarnya terlihat normal, bercakap-cakap dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Udara hangat memenuhi ruangan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, ketika Raka melihat ke jendela, di luar hanya ada kegelapan pekat, dan bayangan dirinya yang tadi menghantui masih menatapnya dengan mata kosong dari balik kaca.
Sebuah pesan kembali terngiang di kepalanya: “Jangan pergi ke Sukamulyo.”
Raka terperangkap dalam perjalanan yang tak pernah berakhir, di kereta menuju kegelapan.














