Beranda Pernak Pernik Ending: Bisikan Hutan Terlarang

Ending: Bisikan Hutan Terlarang

22
Hutan Terlarang
Cerita Misteri "Bisikan Hutan Terlarang"

Raka merasakan dingin yang menggigit menyelimuti tubuhnya saat bisikan itu semakin kuat. Kata-kata yang samar dan berulang-ulang seperti mantra, “Kalian tidak akan pernah pulang…” Meskipun tubuhnya gemetar ketakutan, ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyelamatkan Dimas yang masih berdiri di tepi tebing, seolah-olah dihipnotis oleh kekuatan jahat. Aji menggenggam lengan Dimas kuat-kuat, menariknya dengan sekuat tenaga menjauh dari tepi.

Namun, Dimas tetap bergeming, matanya kosong, wajahnya datar seperti boneka tak bernyawa. “Dimas, sadarlah!” seru Aji, putus asa. Tapi Dimas hanya bergumam tak jelas, bibirnya mengucapkan sesuatu yang tak dimengerti. Saat itu, Raka merasakan ada sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.

Bayangan besar itu, yang tadinya berada di kejauhan, kini semakin mendekat. Raka bisa merasakan hawa jahat yang dibawanya. Makhluk itu tampak seolah-olah terbuat dari kegelapan murni, mata merahnya bersinar di antara kabut tebal yang semakin menutupi hutan. Bisikan-bisikan di sekitar mereka semakin kencang, berubah menjadi jeritan yang memekakkan telinga, memaksa Raka dan teman-temannya untuk menutup telinga.

“Keluar dari sini! Kalian harus keluar!” suara itu tak lagi berasal dari bayangan, melainkan dari dalam kepala Raka sendiri. Seolah ada sesuatu yang berbicara langsung ke pikirannya, memerintahkannya untuk melarikan diri. Tapi bagaimana caranya? Hutan itu sudah menyesatkan mereka, membuat mereka berjalan dalam lingkaran tanpa henti.

Baca juga: Misteri Santet di Desa Tertutup

Tiba-tiba, tubuh Dimas melemas. Aji berhasil menariknya menjauh dari tepi tebing, namun napas Dimas tersengal-sengal, seakan-akan jiwanya sudah setengah berada di dunia lain. Raka dan Aji menurunkan tubuh Dimas ke tanah, berusaha menenangkannya. Siska yang panik berlari-lari kecil ke arah mereka, air mata berderai di pipinya.

“Apa yang harus kita lakukan? Kita akan mati di sini!” teriak Siska, suaranya pecah.

Namun, sebelum Raka bisa menjawab, sesuatu terjadi. Langit yang tadinya kelam mulai berpendar. Cahaya lembut berwarna kuning muncul di antara pepohonan, mengusir kegelapan dan kabut tebal yang menyelimuti mereka. Cahaya itu seperti obor yang menggantung di udara, bergerak perlahan mendekati mereka. Raka merasakan kehangatan dari cahaya tersebut, berbeda dari dingin mencekam yang dihasilkan oleh bayangan itu.