Beranda Headline Dukung Program Kemenkes, UNSIKA Fasilitasi Pemeriksaan HPV DNA di Karawang

Dukung Program Kemenkes, UNSIKA Fasilitasi Pemeriksaan HPV DNA di Karawang

8
pemeriksaan DNA Human Papillomavirus
Peserta mengikuti pemeriksaan HPV DNA sebagai upaya deteksi dini. (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) menjadi salah satu perguruan tinggi yang dipercaya untuk melaksanakan skrining kesehatan perempuan melalui pemeriksaan DNA Human Papillomavirus (HPV)sebagai upaya deteksi dini kanker serviks.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Untuk pelaksanaan di Kabupaten Karawang, program tersebut dipromotori oleh Tirta Medical Centre, yang menunjuk UNSIKA sebagai salah satu fasilitator pelaksanaan skrining.

Baca juga: Jawab Kebutuhan Industri, Unsika Hadirkan Jurusan Kimia, Statistika, dan Arsitektur

Pemeriksaan berlangsung di Laboratorium Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Program Studi D3 Kebidanan, Kampus 2 UNSIKA, pada Rabu (7/1/2026). Selain sebagai implementasi program Kemenkes RI, kegiatan ini juga menjadi bagian dari agenda pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan sivitas akademika UNSIKA dan masyarakat sekitar.

Koordinator Program Studi D3 Kebidanan UNSIKA, Lilis Suryani, S.ST., M.KM, mengatakan kerja sama ini terjalin setelah Tirta Medical Centre melakukan penilaian terhadap sarana dan prasarana yang dimiliki UNSIKA.

“Setelah dilakukan survei, fasilitas laboratorium kami dinilai memadai dan memenuhi standar untuk pelaksanaan pemeriksaan HPV DNA,” ujar Lilis.

Dalam pelaksanaannya, UNSIKA menyiapkan empat ruang skrining, dua ruang edukasi, tiga ruang pemeriksaan, serta ruang konsumsi khusus bagi peserta yang telah menyelesaikan pemeriksaan.

Ia menegaskan bahwa keterlibatan UNSIKA dalam kegiatan ini merupakan bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, dosen tidak hanya berperan sebagai pendidik dan peneliti, tetapi juga hadir langsung memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu kami melibatkan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan masyarakat umum,” katanya.

Dalam pelaksanaan kegiatan, Program Studi D3 Kebidanan UNSIKA turut menggandeng Ikatan Bidan Ranting Pendidikan. Kolaborasi ini membuka peluang keterlibatan dosen dari berbagai institusi kebidanan di Karawang, sehingga peserta berasal dari beragam latar belakang.

Lilis menjelaskan, pemeriksaan HPV DNA merupakan metode yang efektif untuk mendeteksi infeksi virus HPV yang dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks.

“Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi keberadaan virus HPV pada perempuan. Jika diketahui sejak dini, risiko berkembangnya kanker leher rahim dapat ditekan,” jelasnya.

Ia menambahkan, salah satu tantangan dalam pencegahan kanker serviks adalah minimnya gejala pada fase awal infeksi.

“Banyak perempuan tidak menyadari dirinya terinfeksi karena tidak merasakan keluhan apa pun. Padahal, deteksi dini sangat menentukan keberhasilan penanganan,” ujarnya.

Untuk sasaran peserta, UNSIKA memprioritaskan sivitas akademika, termasuk dosen, tenaga kependidikan, serta keluarga pegawai. Namun demikian, kegiatan ini juga terbuka untuk masyarakat umum di Kabupaten Karawang.

“Respons peserta sangat baik. Selain dari internal kampus, masyarakat sekitar bahkan dari kecamatan lain juga ikut mendaftar,” ungkap Lilis.

Tak hanya memberikan layanan pemeriksaan, tim Prodi D3 Kebidanan UNSIKA juga menyampaikan edukasi kesehatan reproduksi perempuan dan pencegahan kanker serviks.

“Peserta diberikan pemahaman mengenai faktor risiko kanker serviks serta perbedaan metode pemeriksaan seperti IVA, Pap Smear, dan HPV DNA. Metode HPV DNA dinilai lebih nyaman dengan tingkat akurasi yang tinggi,” katanya.

Namun demikian, pemeriksaan ini memiliki sejumlah persyaratan. Peserta harus berusia 20–69 tahun, sudah menikah atau aktif secara seksual, tidak sedang menstruasi, tidak berhubungan intim dalam 2×24 jam, serta tidak menggunakan sabun pembersih area kewanitaan sebelum pemeriksaan.

Salah seorang peserta dari masyarakat umum, Susan Septiani, yang berprofesi sebagai ahli gizi, mengaku sangat terbantu dengan adanya program tersebut.

“Jika melakukan pemeriksaan secara mandiri, biayanya bisa lebih dari satu juta rupiah. Program gratis seperti ini tentu sangat membantu,” ujarnya.

Susan menyebutkan bahwa pemeriksaan HPV DNA tersebut merupakan pengalaman pertamanya dan ia datang didampingi oleh suaminya.

Sementara itu, Neneng Winarsih, dosen UNSIKA yang juga menjadi peserta, mengaku sempat merasa cemas karena adanya anggapan bahwa pemeriksaan serviks terasa menyakitkan.

“Ternyata prosesnya cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit. Sebelumnya juga sudah ada penjelasan sehingga lebih tenang,” katanya.

Baca juga: Panen Raya di Karawang, Presiden Prabowo Nyatakan Indonesia Swasembada Pangan

Ia menambahkan, proses pemeriksaan hanya berlangsung sekitar satu menit, sementara seluruh alur pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari setengah jam.

“Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak perempuan, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas,” pungkasnya. (*)