
Namun, Dyah mengatakan bahwa ada keterbatasan pelayanan, sehingga penanganan dan bantuannya tidak dilakukan secara merata melainkan bergantung serta dipilih sesuai kebutuhan (urgen) yang benar-benar dibutuhkan si anak.
Adapun bentuk bantuannya, ada 3 upaya yakni; bantuan berjenis uang dan barang, bantuan rujukan, serta bantuan non fisik seperti pembinaan anak atau pembekalan terhadap pendamping.
“Kita masih terbatas pelayanannya, anak harus terdaftar dulu dalam DTKS. Jika tidak terdaftar tidak bisa diberikan bantuan. Karena volumenya terbatas, saat ini kita baru bisa merealisasikan bantuan satu tahun satu kali,” katanya.
Baca juga: Kejari Karawang Tak Kabulkan Usulan RJ Kasus Ibu Kanthi, Ini Sebabnya
“Bantuannya tergantung hasil dari assasment pekerja sosial dan pengamatan psikologi juga. Diidentifikasi dulu kebutuhannya, pelayanan yang diberikan kita sesuaikan. Kita bisa beri kelengkapan sekolah seperti seragam alat tulis, bisa merujuk ke panti hingga merekomendasikan pengobatan gratis pakai program Karawang Sehat,” tambahnya.
Dyah menyatakan, hingga saat ini yang lumayan sulit dilakukan adalah perujukan ke panti provinsi atau pusat. Kata Dyah, anak terlantar bisa terjamin kebutuhan serta pendidikannya apabila masuk dalam panti tersebut, namun tidak mudah untuk masuk karena ada sistem antrian.
“Kita bisa rujuk ke panti provinsi, nanti dia disekolahkan, diberi uang saku, dipenuhi kebutuhannya bahkan hingga kuliah. Cuman kuotanya gak tentu dan biasanya antri, apalagi di pusat kan se Indonesia,” katanya.
Baca juga: INI-IPPAT Karawang Gelar Halal Bihalal, Kompak Kenakan Kebaya dan Batik
Hanya saja ia bersyukur, karena saat ini ada sekitar 50 Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di Karawang yang mendapatkan bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan 2.890 anak terlantar.
Dari jumlah yang hampir 3.000 tersebut, baru 45 anak terlantar yang diajukan dan mendapatkan bantuan. Dyah menambahkan, bantuan tersebut diberikan secara bertahap sesuai dengan pengajuan.
“Ada bantuan dari pemerintah untuk 50 LKSA yang menaungi 2.890 anak. Bantuannya sebesar 53.307.000 untuk 45 anak, mereka dapet 1 tahun sekali, anaknya dibikinkan ATM, ditransfer ke rekening masing-masing. Pemanfaatannya tergantung dari kebutuhan mereka dengan dampingan LKSA,” tutupnya.













