Beranda Headline DPRD Karawang Minta Perbaikan Sekolah Rusak Jadi Prioritas

DPRD Karawang Minta Perbaikan Sekolah Rusak Jadi Prioritas

29
Sekolah rusak
Ketua Komisi IV DPRD Karawang, Asep Junaedi (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Ketua Komisi IV DPRD Karawang, Asep Junaedi, mendesak Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karawang agar memprioritaskan pembangunan sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan parah. Hal ini disampaikan Asep menyusul insiden di SDN Karya Bakti 4 Batujaya, di mana para siswa ramai-ramai tidak masuk sekolah karena khawatir bangunan ambruk dikarenakan rusak parah.

“Kami sudah berdiskusi dengan Dinas Pendidikan. Sekolah yang kondisinya rusak parah harus menjadi prioritas,” ujar Asep saat diwawancarai pada Rabu, 22 Januari 2025.

Baca juga: DPRD Karawang Minta OPD Fokus pada Inovasi Layanan Berbasis Kebutuhan Warga

Ia juga mendorong agar sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan parah segera melapor langsung ke Disdikpora untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut. “Silakan laporkan ke Disdik. Nanti Disdik akan memberikan solusi, apakah dengan mengosongkan bangunan sementara, mencari alternatif tempat belajar, atau memberlakukan sistem shift,” imbuhnya.

Meski pembangunan infrastruktur sekolah menjadi tanggung jawab Komisi III DPRD Karawang, Asep menegaskan bahwa Komisi IV tetap akan memantau pelaksanaan program tersebut. Pasalnya, kondisi sekolah yang layak sangat berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar (KBM).

“Pembangunan infrastruktur memang ranah Komisi III, tetapi pendidikan secara keseluruhan adalah tanggung jawab Komisi IV,” tegasnya.

Siswa Takut Bangunan Ambruk

Sebelumnya, pada Kamis (9/1/2025), siswa-siswi SDN Karya Bakti 4 Batujaya tidak masuk sekolah karena khawatir dengan kondisi bangunan yang memprihatinkan. Penjaga sekolah, Apriansyah, mengungkapkan bahwa kerusakan sudah terjadi cukup lama, namun belum ada tindakan perbaikan.

Baca juga: Awal Tahun 2025, 21 Rumah di Karawang Rusak Akibat Bencana Alam

“Bangunan sekolah secara keseluruhan mengalami kerusakan. Ada empat kelas, satu ruang guru, dan kamar mandi yang sudah tidak bisa digunakan. Kami sudah beberapa kali mengajukan perbaikan sejak dua tahun lalu, tetapi belum mendapat respons. Kami berharap sekolah ini diprioritaskan agar tidak terjadi hal yang membahayakan siswa,” tuturnya. (*)