beritapasundan.com – Fenomena ludesnya tiket konser musik, bahkan dengan harga fantastis, seringkali dijadikan indikator semu bahwa perekonomian suatu negara sedang baik-baik saja. Namun, para pengamat ekonomi dan sosial memiliki pandangan yang berbeda.
Konser yang selalu terjual habis di tengah perlambatan ekonomi justru menjadi cerminan nyata dari kesenjangan sosial yang semakin melebar di masyarakat.
Menurut Rissalwan Habdy Lubis, Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia, dan Bhima Yudhistira dari Celios, pembelian tiket konser mahal tidak dapat digeneralisasi sebagai bukti daya beli masyarakat secara keseluruhan yang masih tinggi.
Baca juga:Â Gelombang PHK: Ini 10 Profesi Paling Terdampak di Indonesia
Sebagian besar penonton konser ini berasal dari kelas menengah ke atas yang memang memiliki kemampuan finansial untuk membeli hiburan premium. Mereka yang terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dan terburu-buru membeli tiket adalah kelompok yang memiliki kelebihan waktu dan sumber daya.
Di sisi lain, masyarakat dari kalangan bawah dan menengah ke bawah juga membutuhkan hiburan sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup, namun mereka tidak dapat digolongkan sebagai penganut FOMO.
Mereka berjuang berkali-kali lipat hanya untuk bertahan hidup, dan kebutuhan akan hiburan menjadi upaya ‘escape’ dari rutinitas yang berat. Menganggap semua pembeli tiket konser memiliki motif yang sama atau kondisi ekonomi yang setara adalah bentuk ketidakpekaan sosial.
Baca juga:Â Gaji TikTok 1 Juta Followers: Bisa Dapat Rp200 Juta per Bulan?
Para ekonom juga menyoroti bahwa meskipun konsumsi masyarakat dari kelas atas tetap tinggi, data pertumbuhan ekonomi secara makro mungkin menunjukkan perlambatan. Hal ini mengindikasikan bahwa perputaran uang hanya terjadi di segmen tertentu, tidak merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Oleh karena itu, konser yang ludes bukanlah bukti ekonomi yang merata, melainkan manifestasi nyata dari kesenjangan ekonomi yang semakin menganga di Indonesia. (*)














