Beranda Headline Dari Karawang ke Panggung Sejarah: Jejak Ahmad Subardjo dalam Kemerdekaan RI

Dari Karawang ke Panggung Sejarah: Jejak Ahmad Subardjo dalam Kemerdekaan RI

10
Ahmad Subardjo
Ahmad Subardjo Djoyoadisury (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Tidak banyak yang tahu bahwa Karawang memiliki tokoh besar yang ikut mengukir sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia. Tokoh tersebut adalah Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo, Menteri Luar Negeri pertama RI, yang lahir di Telukjambe, Karawang pada 23 Maret 1896.

Silsilah Keluarga

Ahmad Subardjo berasal dari garis keturunan pejuang Aceh, H. Muhammad Usman, yang terlibat dalam Perang Aceh. Usman hijrah dari Aceh pada 1840 dan menetap di Indramayu setelah terdampar akibat badai di perairan pantai Jawa. Dari garis keturunan ini, lahirlah Teuku Jusuf — ayah Ahmad Subardjo — yang bekerja sebagai pejabat Pamong Praja di Telukjambe, Karawang.

Karena posisinya, Teuku Jusuf mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Belanda di Batavia, termasuk Ahmad Subardjo. Pendidikan awalnya dimulai di ELS Jakarta (1903), kemudian melanjutkan ke HBS dan akhirnya ke Universitas Leiden di Belanda, di mana ia meraih gelar Meester in de Rechten (1933).

Baca juga: Lapas Karawang Meriahkan HUT RI ke-80 dengan PORSENAP untuk Warga Binaan

Perjalanan Karier dan Peran dalam Kemerdekaan

Selama di Belanda, Ahmad Subardjo aktif dalam pergerakan nasional dengan menjadi Ketua Indische Vereniging (1919–1921) dan editor majalah Indonesia Merdeka. Sekembalinya ke tanah air, ia berprofesi sebagai pengacara, jurnalis, dan kemudian bekerja di Radio Ketimuran (NIROM).

Pada masa pendudukan Jepang, Ahmad Subardjo menjadi anggota BPUPKI yang bertugas menyusun UUD 1945, Piagam Jakarta, dan penetapan lagu kebangsaan. Ia juga dikenal karena perannya dalam peristiwa Rengasdengklok, saat ia memastikan keselamatan Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta guna mempersiapkan teks Proklamasi.

Pada 19 Agustus 1945, Ahmad Subardjo diangkat sebagai Menteri Luar Negeri pertama RI. Sepanjang kariernya, ia juga menjadi penasihat politik Jenderal Soedirman, kepala delegasi dalam perundingan internasional, Duta Besar, hingga anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Baca juga: BSU Karawang Tersalurkan 93,3 Persen, Cek Status Penerima di Sini!

Penghargaan dan Wafat

Ahmad Subardjo wafat pada 15 Desember 1978 di Jakarta, dimakamkan di tanah miliknya di Megamendung, Bogor. Atas jasanya, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 058/TK/TH. 2009. Ia juga menerima penghargaan seperti Order of Merit (1954), Satya Lencana Perintis Kemerdekaan (1961), Bintang Mahaputra Adipradana (1973), dan Bintang Republik Indonesia Utama (1992).

Kisah hidup Ahmad Subardjo membuktikan bahwa Karawang bukan hanya dikenal sebagai lumbung padi, tetapi juga tanah kelahiran pahlawan nasional yang perannya sangat penting bagi kemerdekaan bangsa. (*)