Beranda News Bonus Demografi atau Beban? Pemuda Karawang Masih Jadi Angka

Bonus Demografi atau Beban? Pemuda Karawang Masih Jadi Angka

28
Ilustrasi

Oleh: Ketua Cabang PMII Kabupaten Karawang, Mardhika

KARAWANG- Pemuda merupakan aktor strategis dalam denyut pembangunan daerah. Mereka bukan sekadar objek statistik yang dipajang dalam laporan tahunan, melainkan subjek perubahan yang semestinya menjadi motor penggerak kemajuan. Namun realitas di Kabupaten Karawang hari ini menunjukkan paradoks yang mencolok: jumlah pemuda yang segede gaban justru lebih sering diperlakukan sebagai angka, bukan sebagai kekuatan.

Secara kuantitatif, Karawang dianugerahi bonus demografi yang besar. Populasi usia muda terus meningkat, seiring dengan derasnya arus investasi industri yang masuk ke wilayah ini. Akan tetapi, pertanyaan mendasar yang patut diajukan adalah: apakah pemuda Karawang benar-benar disiapkan menjadi pelaku utama pembangunan, atau justru hanya menjadi penonton di tengah geliat industrialisasi?

Peran strategis pemuda sejatinya menuntut adanya peta jalan (roadmap) kepemudaan yang jelas, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Tanpa arah kebijakan yang konkret, peran pemuda hanya akan berhenti pada jargon dalam pidato-pidato seremonial. Padahal, keberhasilan pembangunan ekonomi, sosial, hingga budaya sangat ditentukan oleh kapasitas sumber daya manusianya. Ketika kapasitas pemuda diabaikan, bonus demografi berpotensi berubah menjadi beban demografi.

Baca juga: KNPI Pakisjaya Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Banjir di Desa Telukbuyung

Ironisnya, besarnya angka pemuda di Karawang tidak dibarengi dengan blueprint kepemudaan yang komprehensif. Program-program kepemudaan kerap berjalan secara tambal sulam, cenderung formalistis, dan minim keberlanjutan. Pelatihan dilaksanakan sekadar menggugurkan anggaran, bukan untuk meningkatkan kompetensi secara substantif. Forum-forum kepemudaan ramai dalam seremoni, namun kerap kehilangan arah ketika berbicara tentang tujuan dan dampak jangka panjang.

Di sisi lain, investasi yang terus masuk ke Karawang menuntut ketersediaan tenaga kerja yang kompeten, kritis, dan berdaya saing. Tanpa pembekalan kapasitas yang memadai, pemuda lokal berisiko hanya menempati posisi sebagai tenaga kasar di tanahnya sendiri, sementara ruang-ruang strategis diisi oleh sumber daya manusia dari luar daerah. Pada titik ini, pertumbuhan ekonomi justru tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan pemuda Karawang.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menilai, sudah saatnya pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan berhenti terbuai oleh kebanggaan semu atas besarnya jumlah pemuda. Angka yang segede gaban tanpa arah kebijakan yang jelas hanya akan melahirkan kebingungan massal. Yang dibutuhkan bukan sekadar data statistik, melainkan visi kepemudaan yang tegas: pemuda Karawang hendak dibawa ke mana, disiapkan dengan kapasitas apa, dan dilibatkan dalam peran apa dalam pembangunan daerah.

Tanpa perubahan pendekatan, pemuda akan terus menjadi tema pidato, bukan mitra strategis pembangunan. Karawang bahkan berisiko mencatat ironi sejarah: memiliki jumlah pemuda yang besar, tetapi gagal mengelolanya sebagai kekuatan. Sebab, pembangunan tanpa pemuda yang berdaya sejatinya adalah pembangunan yang kehilangan ruh.

Sebagai bentuk keseriusan dalam mengawal isu kepemudaan, PMII Kabupaten Karawang menegaskan bahwa kritik ini bukan sekadar wacana. Dalam waktu dekat, PMII akan mendorong dilaksanakannya Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPRD Kabupaten Karawang guna membahas evaluasi anggaran kepemudaan Tahun 2025, pelaksanaan anggaran Tahun 2026 yang sedang berjalan, serta mendorong lahirnya blueprint kepemudaan Karawang yang terukur, berkelanjutan, dan berpihak pada penguatan kapasitas pemuda lokal.

PMII berpandangan, tanpa evaluasi anggaran yang transparan dan arah kebijakan yang jelas, isu kepemudaan hanya akan terus berputar dalam retorika. Karena itu, PMII memilih berdiri di garis depan untuk mengawal, mengkritik, dan memastikan pemuda Karawang tidak terus-menerus diposisikan sebagai angka yang segede gaban, melainkan benar-benar menjadi kekuatan strategis dalam pembangunan daerah.