Beranda News Bmkg Sebut Fenomena Cuaca Panas di Indonesia Bukan Karena Heatwave

Bmkg Sebut Fenomena Cuaca Panas di Indonesia Bukan Karena Heatwave

18
Cuaca panas
Ilustrasi Gelombang Panas atau Heatwave (Foto: Istimewa/net.)

beritapasundan.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, peralihan musim menjadi penyebab suhu udara di Indonesia menjadi gerah.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan, cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini bukan diakibatkan oleh gelombang panas atau heatwave.

Ia menerangkan, berdasarkan karakteristik dan indikator statistik pengamatan suhu yang dilakukan BMKG, fenomena cuaca panas di Indonesia tidak dapat dikategorikan sebagai gelombang panas.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Karawang dan Jawa Barat, Senin 6 Mei 2024

“Memang betul, saat ini gelombang panas sedang melanda berbagai negara Asia, seperti Thailand dengan suhu maksimum mencapai 52°C. Kamboja, dengan suhu udara mencapai level tertinggi dalam 170 tahun terakhir, yaitu 43°C pada minggu ini.

Namun, khusus di Indonesia yang terjadi bukanlah gelombang panas, melainkan suhu panas seperti pada umumnya,” ungkap Dwikorita dikutip dari pers rilis pada Senin, 6 Mei 2024.

Dwikorita menambahkan, kondisi maritim di sekitar Indonesia dengan laut yang hangat dan topografi pegunungan mengakibatkan naiknya gerakan udara.

Sehingga dimungkinkan terjadinya penyanggaan atau buffer kenaikan temperatur secara ekstrem dengan terjadi banyak hujan yang mendinginkan permukaan secara periodik.

“Hal inilah yang menyebabkan tidak terjadinya gelombang panas di wilayah Kepulauan Indonesia,” katanya.

Baca juga: Cuaca Panas yang Melanda Indonesia, Waspada Heat Stroke

Suhu panas yang terjadi, kata dia, merupakan akibat dari pemanasan permukaan sebagai dampak dari mulai berkurangnya pembentukan awan dan berkurangnya curah hujan.

Sama halnya dengan kondisi gerah yang dirasakan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, hal tersebut juga merupakan sesuatu yang umum terjadi pada periode peralihan musim hujan ke musim kemarau.

“Periode peralihan ini umumnya dicirikan dengan kondisi pagi hari yang cerah, siang hari yang terik dengan pertumbuhan awan yang pesat diiringi peningkatan suhu udara, kemudian terjadi hujan pada siang menjelang sore hari atau sore menjelang malam hari,” paparnya. (*)