Raka dan tiga temannya, Aji, Siska, dan Dimas, adalah pendaki gunung yang bersemangat. Mereka memutuskan mendaki sebuah gunung terpencil yang terkenal dengan keindahan alamnya namun jarang dijamah manusia. Gunung itu dikenal memiliki jalur yang sulit dan hutan lebat yang misterius. Beberapa pendaki pernah melaporkan kejadian aneh, tetapi mereka tak terlalu memperdulikannya. Semangat untuk mencapai puncak mengalahkan semua kekhawatiran mereka.
Matahari mulai tenggelam ketika mereka menyadari telah tersesat. Jalur yang tadinya mereka ikuti tiba-tiba hilang di tengah hutan lebat. Kompas yang mereka bawa seakan kehilangan arah, menunjukkan putaran tak menentu. Aji, yang biasanya tenang, tampak gugup. “Kita sebaiknya berhenti di sini dan mendirikan tenda. Besok pagi, kita bisa mencoba mencari jalur kembali,” ujarnya dengan nada cemas.
Malam itu, hutan terasa begitu sunyi. Udara dingin menyelinap ke dalam tenda, membawa perasaan aneh yang mencekam. Ketika Raka mencoba tidur, dia mendengar suara langkah kaki di luar tenda. Perlahan-lahan, suara itu semakin dekat. “Apa ada yang keluar dari tenda?” bisik Raka kepada Dimas yang tidur di sebelahnya. Dimas terbangun, menegakkan tubuhnya dan mendengarkan. Suara itu jelas terdengar: langkah-langkah pelan yang menghampiri.
Mereka membangunkan Aji dan Siska. Rasa takut mulai merambat di antara mereka. Raka memutuskan untuk keluar dan memeriksa, ditemani Aji. Dengan senter di tangan, mereka mengintip keluar. Tidak ada apa pun, hanya pepohonan yang berdiri tegak dalam gelapnya malam. Namun, saat mereka berbalik untuk masuk kembali ke tenda, sesuatu yang tak terlihat berbisik di telinga Raka. Suara lembut, seakan berasal dari tempat yang jauh, namun sangat jelas. “Kalian tidak seharusnya di sini…”
Malam itu menjadi panjang. Setiap kali mereka mencoba tidur, suara-suara aneh muncul—bisikan, langkah kaki, bahkan sesekali suara tangisan dari kejauhan. Tidak ada dari mereka yang bisa benar-benar beristirahat.
Baca juga: Misteri Santet di Desa Tertutup
Keesokan paginya, mereka memutuskan untuk segera turun gunung. Namun, saat berjalan, jalur yang mereka kenal tiba-tiba berubah. Pohon-pohon besar seolah membentuk labirin yang menjebak mereka di dalamnya. Kompas tak lagi bisa diandalkan, dan mereka mulai merasa seperti berjalan dalam lingkaran.














