Beranda News Belajar Hidup dari Mak Edah: Meski Di-PHK, Bangkitkan Desa Tertinggal hingga Dipuji...

Belajar Hidup dari Mak Edah: Meski Di-PHK, Bangkitkan Desa Tertinggal hingga Dipuji Presiden

44
Mak edah di karawang
Perempuan bernama lengkap Jubaedah (50) ini bukan pejabat, bukan juga orang kaya. Tapi dari tangannya, desa yang dulu tertinggal kini hidup dan bergeliat dengan semangat baru.

KARAWANG – Di sebuah desa kecil di Karawang, tepatnya di Desa Tanjung, Kecamatan Banyusari, nama Mak Edah begitu dikenal. Perempuan bernama lengkap Jubaedah (50) ini bukan pejabat, bukan juga orang kaya. Tapi dari tangannya, desa yang dulu tertinggal kini hidup dan bergeliat dengan semangat baru.

Dari PHK Jadi RT

Kisahnya bermula pada tahun 2012, saat Mak Edah baru saja di-PHK dari pabrik sepatu tempatnya bekerja. Di tengah keterpurukan itu, ia menyaksikan bagaimana desanya tertinggal jauh dibanding desa lain. Kala itu desanya berstatus sebagai desa rawan pangan.

“Emak gak mau dusun emak ketinggalan. Waktu itu emak pengen jadi RT, biar bisa bantu warga,” tuturnya dengan logat khas Karawang.

Niat tulus itu mengantarkannya menjadi ketua RT, dan sejak saat itu hidupnya sepenuhnya ia abdikan untuk masyarakat. Ia aktif di PKK, posyandu, RW, bahkan sering menjadi pengantar warga yang sakit. Semua dilakukan tanpa gaji, hanya berbekal keikhlasan.

Baca juga: “Signora”, Resto Pizza Autentik Pertama di Karawang dengan Cita Rasa Italia

Mendirikan PAUD dari Nol
Mak edah di karawang
Sekolah PAUD yang didirikan Mak Edah di Karawang.

Tak berhenti di situ, Mak Edah gelisah melihat anak-anak desa yang tak memiliki akses pendidikan dini. Padahal, menurutnya, mereka adalah generasi penerus yang harus disiapkan sejak kecil. Maka, dengan tekad besar, ia mendirikan PAUD Anugrah, sebuah sekolah yang ia bangun dari nol.

Padahal, Mak Edah sendiri hanya lulusan kelas 4 SD. Namun ia tak menyerah. Demi bisa memimpin sekolah, ia mengambil pendidikan paket agar memenuhi syarat sebagai kepala sekolah. “Biar emak bisa buka PAUD sendiri, emak sekolah lagi,” katanya.

Awalnya, PAUD Anugrah hanya memiliki 22 murid, dengan satu guru yang dibantu oleh anak kandungnya. Gaji guru pun tak seberapa, itu hasil dari Mak Edah berjualan jamu dan nasi uduk keliling. “Kalau hasil jualan kuatnya 100 ribu, segitu yang emak kasih buat guru,” ujarnya sambil mengenang.

Kini, PAUD Anugrah sudah memiliki sekitar 90 murid dan menjadi tempat belajar yang membanggakan warga sekitar.

Lahirnya Krupuk Miskin Mak Edah

Tahun 2017, perjalanan Mak Edah memasuki babak baru. Pemerintah meminta setiap desa mengembangkan produk mandiri. Ia mencoba berbagai olahan; dari kue, donat, bolu, hingga rangginang. Namun semuanya gagal, sampai akhirnya, dari dapur sederhananya, tercipta ‘Krupuk Miskin Kencur Mak Edah’, camilan gurih nan murah meriah.

“Emak pikir, bikin yang murah tapi gak murahan. Akhirnya jadi krupuk miskin ini,” katanya.

Produksi krupuk ini melibatkan para lansia di sekitar rumahnya. Mereka datang setiap pagi untuk menyangrai dan mengaduk krupuk, lalu pulang siang hari dengan membawa upah hasil kerja bersama. Dalam sehari, Mak Edah bisa memproduksi 20 kilogram atau sekitar 200 bungkus krupuk, dengan keuntungan sekitar Rp10.000 per bungkus.

Baca juga: Tolak Kenaikan Pajak 400 Persen, GMNI: Pemerintah Harus Evaluasi Kebijakan

Pemasarannya kini menjangkau Cikampek, Jatisari, Subang, hingga dititipkan ke warung-warung kecil.

Dapat Dukungan Pertagas

Perjuangan Mak Edah menarik perhatian pemerintah dan perusahaan. Ia direkomendasikan untuk mendapat pembinaan CSR dari Pertagas. Melalui program itu, ia tak hanya diberi pelatihan, tapi juga bantuan bertahap berupa gedung sekolah, tempat produksi, alat-alat UMKM, jaringan wifi, PLTS, bahkan program budidaya jangkrik.

“Kalau emak beli sendiri, mungkin bisa keluar uang puluhan juta,” ucapnya.

Pertagas juga menunjuknya sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga di bawah binaan mereka. Meski awalnya tak tahu apa itu KWT, Mak Edah menerimanya dengan semangat belajar. “Pokoknya kalau ada arahan, emak jalanin. Namanya juga kesempatan,” ujarnya.

Dari Desa ke Istana Negara

Tak disangka, produk sederhana buatan Mak Edah akhirnya sampai ke tangan Presiden Joko Widodo. Bahkan, krupuknya sempat dipamerkan Jokowi di podium saat acara kenegaraan.

“Kata Pak Presiden, ‘produk itu harusnya begini, murah meriah tapi tidak murahan’. Emak gak nyangka bisa sampai situ,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Selain Jokowi, Ridwan Kamil juga pernah membeli produknya, dan Mak Edah sempat diminta memproduksi krupuk di hadapan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Kini, rumah dan tempat usahanya sering didatangi mahasiswa KKN, awak media, dan berbagai pihak yang ingin belajar dari kisah hidupnya. “Emak suka heran, kok bisa tau rumah emak. Katanya dari internet,” ujarnya tertawa.

Baca juga: Bukan Karena Pemborongan, Ini Penyebab Sebenarnya Harga Telur Ayam Naik

Dari Lahan Kecil ke Harapan Besar

Kini, Mak Edah memiliki lahan seluas 940 hektar yang ia gunakan untuk PAUD, gedung produksi, dan area serbaguna. Bahkan ia membangun kolam renang kecil di sekolahnya agar anak-anak lebih semangat datang belajar.

Semua pencapaiannya ia persembahkan bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk desa. “Emak cuma pengen desa ini maju, anak-anaknya sekolah, warganya punya penghasilan,” ucapnya lirih.

Atas dedikasi dan ketulusan hatinya, Mak Edah masuk dalam daftar 514 Perempuan Berprestasi Indonesia. Suaminya, Harisman (55), yang dulu juga terkena PHK saat pandemi, kini menjadi tangan kanan sekaligus penyemangat utama dalam setiap langkahnya.

Kisah Mak Edah adalah potret nyata bagaimana keikhlasan bisa melahirkan perubahan besar. Dari seorang buruh pabrik yang kehilangan pekerjaan, ia tumbuh menjadi pendidik, penggerak, dan pengusaha sosial yang mengangkat derajat desanya.

“Alhamdulillah, bahkan emak ada yang kasih umroh gratis. Emak yakin ini gaji dari Gusti Allah,” tutupnya. (*)