Beranda Headline Bappeda: Ratusan Kampung di Kabupaten Bekasi Masih Masuk Kategori Kumuh

Bappeda: Ratusan Kampung di Kabupaten Bekasi Masih Masuk Kategori Kumuh

48
Kepala Bappeda Kabupaten Bekasi, Slamet Supriyadi. (foto: ist)

BEPAS, KABUPATEN BEKASI – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bekasi merancang penataan lingkungan untuk 30 kampung kumuh se-Kabupaten Bekasi yang realisasinya akan dilaksanakan pada tahun 2020.

“Di tahun ini 30 kampung kumuh yang akan kita tata lingkungannya. Puluhan kampung ini kan terdiri dari beberapa RW dan RT. Program ini tentunya sesuai dengan visi misi Bupati Bekasi,”  kata Kepala Bappeda Kabupaten Bekasi, Slamet Supriyadi di Cikarang, Rabu.

Dia melanjutkan target penataan perkampungan kumuh di Kabupaten Bekasi mencapai 126 hektare sementara yang sudah ditata hingga saat ini mencapai 71,05 hektare.

“Ada yang sudah dilaksanakan oleh APBN dan juga oleh kita (Kabupaten Bekasi). Jadi sesuai RPJMD target nol persen kawasan kumuh di Kabupaten Bekasi di tahun 2022,” ucapnya.

Dilansir Antaranews, Slamet mengatakan hingga saat ini masih ada ratusan perkampungan yang masuk dalam kategori kumuh. Ratusan kampung tersebut tersebar di 12 desa se-Kabupaten Bekasi.

“Tidak ada penggusuran. Jadi kondisi yang ada saat ini kita perbaiki. Seperti yang belum punya MCK kita buatkan. Lingkungannya juga ditata agar lebih baik,” katanya.

Selain perkampungan kumuh, Bappeda Kabupaten Bekasi juga merancang pencegahan kawasan kumuh di 40 desa setempat.

“Pencegahan juga kita lakukan. Karena kalau tidak dicegah akan masuk ke dalam kategori kumuh juga,” ujarnya.

Bappeda juga terus berupaya menata kampung kumuh menjadi lebih sehat melalui sejumlah upaya di antaranya pembangunan infrastruktur, sanitasi, dan penataan perilaku hidup sehat masyarakat.

“Kalau belum ada sumur bor, kita buatkan. Program ini akan kita maksimalkan karena memang ini sesuai dengan rencana aksi daerah yang digagas oleh Bupati Bekasi,” katanya.

Penataan lingkungan kumuh menjadi lingkungan sehat akan mempengaruhi banyak aspek karena lingkungan yang kurang sehat bisa mempengaruhi kecerdasan dan berdampak pada sumber daya manusia unggul.

“Kalau lingkungan sehat maka hidup masyarakat menjadi lebih sehat. Kalau tidak konsumsi air bersih maka itu akan berpengaruh juga pada tingkat kecerdasan,” kata Slamet. (ant/bp)

Artikulli paraprak1528 Desa di Jabar Siap Gelar Pilkades Serentak
Artikulli tjetërTak Lagi MUI, Sertifikasi Halal Kini Wewenang Kemenag