Beranda Headline Banjir Ganggu Pertanian Karawang, 3.685 Hektare Tanaman Padi Terancam

Banjir Ganggu Pertanian Karawang, 3.685 Hektare Tanaman Padi Terancam

13
Sektor pertanian Karawang
Genangan banjir merendam area persawahan di Kabupaten Karawang, menyebabkan ribuan hektare tanaman padi terdampak dan harus dilakukan tanam ulang. (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Banjir yang melanda Kabupaten Karawang dalam beberapa hari terakhir berdampak signifikan terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman padi. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat Karawang dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional, selain sebagai kawasan industri strategis di Jawa Barat.

Pelaksana Bidang Prasarana Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Adhari, menyampaikan bahwa banjir telah berdampak di sebagian besar wilayah kecamatan.

“Dari total 30 kecamatan, kami telah mendata sebanyak 21 kecamatan terdampak banjir, terutama pada pertanaman padi yang baru memasuki masa semai,” ujar Adhari.

Baca juga: Pemdes Telukbuyung Salurkan 905 Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir

Ia menjelaskan, lahan sawah yang telah memasuki masa panen relatif tidak mengalami dampak berarti karena sebagian besar telah dipanen dan kembali diolah.

“Bagi pemilik sawah yang sudah panen, genangan banjir tidak berdampak signifikan terhadap hasil produksi,” katanya.

Namun demikian, dampak banjir cukup besar dirasakan oleh petani dengan tanaman padi berusia muda.

“Apabila persemaian padi masih berumur 2 hingga 7 minggu, maka harus dilakukan tanam ulang,” tambah Adhari.

Sementara itu, Kepala Bidang Sarana Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Mahmud, mengungkapkan bahwa berdasarkan data terbaru periode 1 hingga 26 Januari 2026, tercatat sekitar 3.685 hektare tanaman padi terdampak banjir pada fase hari setelah tanam (HST).

“Untuk tanaman padi berusia 9 hari setelah semai, tercatat terdampak seluas 94,2 hektare. Secara keseluruhan, pertanaman terdampak berada pada rentang usia 1 hingga 21 hari,” jelas Mahmud.

Ia juga menyebutkan bahwa sejumlah wilayah seperti Kecamatan Pedes, Tempuran, dan Cibuaya telah melakukan panen lebih awal sebagai langkah antisipasi.

“Kami telah bermitra dengan Bulog Karawang untuk memastikan penyerapan hasil panen petani tetap berjalan,” ujarnya.

Mahmud menambahkan, saat ini pihaknya masih melakukan rekapitulasi data secara menyeluruh di lapangan.

“Ada standar perhitungan dampak banjir. Jika tanaman padi usia 1 hingga 21 hari terendam hingga batang selama maksimal tiga hari, masih dinilai aman. Namun jika lebih dari itu, dipastikan tanaman tidak dapat diselamatkan,” katanya.

Dinas Pertanian Kabupaten Karawang terus melakukan pendataan dan koordinasi lintas bidang guna mempercepat penanganan dampak banjir.

Baca juga: KOPRI PMII Desak Kebijakan Kepemudaan Karawang Lebih Adil bagi Perempuan

“Langkah cepat yang kami lakukan adalah berkoordinasi dengan bidang prasarana untuk lahan siap panen serta menyiapkan bantuan benih bagi petani terdampak banjir,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa strategi penanganan dilakukan secara terpadu bersama pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.

“Untuk lahan yang baru ditanam dan terdampak banjir, kami segera melakukan tanam ulang agar produktivitas pertanian di Karawang tetap terjaga,” tutup Mahmud. (*)