Beranda Headline Aktivis Soroti Ketimpangan Gender dalam Program KB di Karawang

Aktivis Soroti Ketimpangan Gender dalam Program KB di Karawang

29
Program KB karawang
Aktivis perempuan Karawang, Bidara Ganda Arum (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32, aktivis perempuan Karawang, Bidara Ganda Arum atau akrab disapa Gandum, menyuarakan harapannya agar pemerintah menghadirkan program KB yang lebih inklusif dan berkeadilan gender.

Sebagai Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) dan aktivis Kelas Muda Karawang, Gandum menyoroti bahwa program KB nasional masih mengalami ketimpangan gender yang cukup besar, ditandai dengan dominasi akseptor KB perempuan dibandingkan laki-laki.

“Partisipasi antara perempuan dan laki-laki dalam penggunaan kontrasepsi sangat timpang,” ujarnya pada, Senin (7/7/2025).

Baca juga: PKL Kembali Serbu Taman Ade Irma, Satpol PP Lakukan Penertiban

Menurut Gandum, dominasi akseptor KB perempuan disebabkan oleh terbatasnya akses kontrasepsi untuk laki-laki. Kebanyakan alat kontrasepsi seperti suntik dan pil justru ditujukan kepada perempuan, meski memiliki efek hormonal yang cukup signifikan.

“Contohnya KB suntik atau pil yang seringkali memengaruhi kondisi hormonal perempuan. Ini membuat tubuh perempuan seperti dikontrol negara lewat intervensi program KB,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa perempuan berhak penuh untuk menentukan sendiri pilihan reproduksinya, termasuk kapan dan berapa jumlah anak yang ingin dimiliki, tanpa tekanan sosial maupun kebijakan yang bias gender.

“Menurutku, program KB seharusnya tidak membebani perempuan. Mereka berhak memilih metode yang sesuai atau bahkan memilih untuk tidak ikut KB sama sekali,” tegasnya.

Lebih jauh, Gandum menilai praktik tersebut mencerminkan kuatnya budaya patriarki yang masih mengakar dalam sistem pelayanan publik, termasuk dalam pelaksanaan program KB, sehingga memperparah ketimpangan gender di masyarakat.

Ia mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang agar terlibat aktif dalam menyosialisasikan edukasi reproduksi yang lebih adil dan setara bagi calon pasangan suami istri.

Baca juga: Unsika Jalani Akreditasi Internasional, 24 Prodi Dinilai Lembaga Jerman

“Pemkab Karawang harus hadir, jangan sampai Karawang menjadi kota yang tidak ramah perempuan,” tambahnya.

Sementara itu, berdasarkan data dari Ketua Tim Bina Kesetaraan KB Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Karawang, Veri, tercatat sebanyak 239.283 akseptor KB aktif hingga Mei 2025, tersebar di 30 kecamatan.

Metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan ialah KB suntik (165.802 akseptor), diikuti pil (36.123), implan (13.008), dan IUD (11.147). Sementara itu, akseptor KB laki-laki melalui metode vasektomi hanya berjumlah 199 orang—angka yang menunjukkan disparitas besar dalam partisipasi kontrasepsi. (*)