
KARAWANG – Bedah buku “Raih Hasil Optimal Budidaya Padi” yang digelar di Auditorium Magister Fakultas Pertanian, Senin (26/1/2026), menjadi momentum kolaborasi antara Fakultas Pertanian dan Syngenta dalam menjawab tantangan pertanian modern, khususnya pemanfaatan Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Karawang sebagai lumbung padi nasional.
Perwakilan Syngenta, Harlino, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya diseminasi ilmu pertanian berbasis inovasi dan teknologi kepada kalangan akademisi.
Baca juga: Penggalangan Dana Banjir di Jalan Raya Dilarang, Bantuan Dipusatkan di BPBD
“Dari Syngenta ingin melakukan diseminasi terkait buku ini dengan menggandeng pihak akademisi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meskipun buku tersebut telah dirilis sekitar satu tahun lalu, sinergi tetap dibangun dengan mahasiswa sebagai petani milenial dan Generasi Z, agar konsep pertanian modern dapat diterapkan secara berkelanjutan.
“Dari buku ini, konsepnya bisa dipakai sebagai acuan bagi mahasiswa dan petani muda dalam bertani,” jelasnya.
Harlino juga menyoroti pentingnya pemanfaatan IoT sebagai penunjang pertanian modern dan peningkatan produktivitas pertanian, khususnya pada komoditas padi.
“Selain rilisan fisik, buku ini juga tersedia dalam versi digital yang bisa diakses melalui aplikasi Cropwise,” tambahnya.
Ia mengungkapkan, penggunaan IoT untuk perlindungan tanaman melalui teknologi drone saat ini masih berada pada tahap penelitian dan belum diterapkan secara luas di lapangan.
“Belum masuk ke ranah lapangan, tetapi potensinya sangat besar,” paparnya.
Menurutnya, pemanfaatan IoT sangat efektif untuk pemantauan tanaman padi, terutama dalam mendeteksi perkembangan hama dan penyakit secara dini.
“Melihat dinamika saat ini, dunia pertanian sangat memerlukan inovasi. Dengan drone dan IoT, pengendalian bisa dilakukan lebih tepat dan efisien,” tegasnya.
Sementara itu, Adhari, Pelaksana Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Karawang, menilai penerapan IoT di era digital menjadi kebutuhan mendesak bagi sektor pertanian modern.
“Kita bisa melakukan penanaman di Karawang dan tetap memantaunya dari mana saja,” ujarnya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa penerapan IoT memerlukan kesiapan infrastruktur, termasuk instalasi dan perangkat yang terintegrasi.
“Kita jangan cepat berpuas diri dengan capaian swasembada. Masih banyak yang harus diperbaiki,” katanya.
Ia menyebutkan sejumlah sektor yang masih membutuhkan pembenahan, seperti pupuk, drainase, hingga serapan gabah petani.
“Alhamdulillah target pemerintah pusat tercapai, tetapi konsistensi harus dijaga,” tambahnya.
Senada, Sulistyo, Dekan Fakultas Pertanian, menyatakan bahwa penggunaan IoT berdampak besar terhadap produktivitas pertanian.
Baca juga: SD Qur’an Terpadu Nurul Islam Gelar Talkshow Ummahat Jadi Ibu Hebat di Era Disrupsi
“IoT mampu mengontrol hasil tani, meningkatkan produktivitas, serta memenuhi kebutuhan konsumen melalui rotasi tanam dan efisiensi,” paparnya.
Di akhir kegiatan, Harlino berharap bedah buku ini dapat dikenal lebih luas dan menjadi rujukan nasional dalam pengembangan pertanian modern dan berkelanjutan.
“Harapannya, target nasional yang semula 5 ton hingga 5,5 ton per hektare dapat meningkat menjadi 10 ton,” pungkasnya. (*)













