Beranda Headline Perjuangan Guru Honorer Papua, Ertina Hisage Tempuh Medan Berat Demi Lulus PPG...

Perjuangan Guru Honorer Papua, Ertina Hisage Tempuh Medan Berat Demi Lulus PPG Unsika

13
Ertina Hisage
Ertina Hisage, guru honorer Papua, usai dikukuhkan sebagai lulusan PPG Unsika 2025. (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Medan berat dan keterbatasan akses di Papua Pegunungan tak memadamkan semangat Ertina Hisage, guru honorer SD asal pedalaman Papua, untuk terus belajar dan mengabdi demi masa depan pendidikan anak-anak di kampung halamannya. Perjuangan guru honorer Papua ini menjadi potret nyata dedikasi pendidik di daerah dengan minim infrastruktur.

Ertina tercatat sebagai salah satu wisudawan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika). Perjalanan mengikuti PPG Unsika menjadi pengalaman penuh tantangan sekaligus inspirasi, khususnya bagi sesama guru honorer Papua.

Baca juga: PPG Unsika 2025: Ribuan Guru Profesional Resmi Lulus

Berbagai tantangan dihadapi Ertina selama mengikuti PPG. Ia mengajar di wilayah yang jauh dari pusat kota, tanpa jaringan internet, bahkan penggunaan ponsel Android sangat terbatas.

“Tempat saya mengajar itu jauh dari kota, tidak ada jaringan, perjalanan sekitar dua jam. HP Android pun susah dipakai. Tapi saya punya komitmen, saya harus bisa dan harus menjadi guru profesional,” ujar Ertina usai pengukuhan PPG Unsika, Minggu (14/12).

Kondisi tersebut memaksanya mengatur waktu dengan disiplin tinggi. Setiap pagi ia mengajar sebagai guru honorer Papua, lalu siang hingga malam hari menempuh perjalanan panjang menuju kota menggunakan angkutan umum demi mendapatkan akses internet untuk mengikuti perkuliahan PPG.

“Pagi saya mengajar, siangnya saya harus keluar dari tempat tugas, naik angkot, mencari tempat yang ada jaringan supaya bisa ikut perkuliahan,” tuturnya.

Bagi Ertina, perjuangan menempuh PPG Unsika bukan sekadar mengejar kelulusan. Hal itu merupakan tanggung jawab moral untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak pedalaman Papua yang masih tertinggal.

“Saya ingin adik-adik di kampung tidak tertinggal. Karena jarak dan medan yang jauh, banyak anak akhirnya tidak sekolah. Itu yang mendorong saya untuk terus berjuang,” katanya.

Perjuangan Ertina semakin terasa saat menghadiri wisuda PPG Unsika. Bersama dua anak dan sang ibu, ia harus menempuh perjalanan laut selama sembilan hari dari Papua menuju Karawang demi menerima sertifikat kelulusan.

“Puji Tuhan, saya bisa sampai dan berdiri di sini. Ini bukan karena kehebatan saya, tapi karena Tuhan menolong saya lewat para dosen dan pembimbing di Unsika,” ucapnya haru.

Sejak 2016, Ertina telah mengabdikan diri sebagai guru honorer Papua di Yayasan SD Advent Maima. Meski hampir satu dekade berstatus honorer, ia terus meningkatkan kompetensi hingga meraih gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia pada 2021 dan menyelesaikan PPG Unsika pada 2025.

Baca juga: MTQH ke-42 Kabupaten Karawang Resmi Dibuka, Cibuaya Cetak Sejarah Jadi Tuan Rumah

Ke depan, Ertina bertekad memajukan pendidikan anak usia dini di daerahnya. Ia telah mengantongi sertifikat pendirian PAUD dan TK serta berencana mengajukan pembangunan gedung sekolah agar anak-anak di kampungnya bisa mengakses pendidikan sejak dini.

Usai lulus PPG, Ertina ingin menularkan ilmu dan pengalamannya kepada sesama guru honorer Papua.

“Saya ingin ilmu PPG ini tidak berhenti di saya. Saya mau berbagi dengan teman-teman guru, supaya kami bisa bersama-sama menjadi terang bagi anak-anak di kampung,” pungkasnya. (*)