Beranda Headline Indonesia Didorong Percepat Eliminasi TBC, STPI: Bukan Ilusi tapi Komitmen Bersama

Indonesia Didorong Percepat Eliminasi TBC, STPI: Bukan Ilusi tapi Komitmen Bersama

5
Eliminasi TBC
Suasana diskusi publik STPI bertema ‘Eliminasi atau Ilusi?’ dalam rangka Hari Kesehatan Nasional 2025 di Griya Arifin Panigoro, Jakarta. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2025, Stop TB Partnership Indonesia (STPI) menggelar diskusi publik bertajuk “Eliminasi atau Ilusi? Indonesia di Jalur Eliminasi TBC: Komitmen yang Tak Surut” di Griya Arifin Panigoro, Jakarta, Rabu (12/11/2025).

Empat pembicara hadir membagikan pandangan dan gagasan dalam forum tersebut, yaitu dr. Triya Novita Dinihari (Tim Surveilans Kementerian Kesehatan RI), Prof. dr. Erlina Burhan dan dr. Donald Pardede (Dewan Penasihat STPI), serta Dr. Hermawan Saputra (Wakil Ketua I CCM Global Fund AIDS TB Malaria Indonesia).

Diskusi ini menyoroti tiga isu utama: vaksin TBC, penguatan kader kesehatan, dan efisiensi anggaran penanggulangan TBC.

Baca juga: HUT ke-68 Kosgoro Karawang Jadi Momentum Perkuat Solidaritas dan Kebersamaan

Dalam paparannya, dr. Erlina Burhan menekankan bahwa tantangan terbesar Indonesia dalam upaya eliminasi TBC masih sama dari tahun ke tahun, yaitu rendahnya deteksi kasus.

“Yang paling menantang itu menemukannya. Tahun 2024 menjadi tahun dengan capaian deteksi tertinggi, yaitu 75% dari sekitar 1 juta kasus TBC,” ungkapnya.

Sementara itu, dr. Triya Novita Dinihari mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan revisi Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis agar kebijakan eliminasi TBC semakin terintegrasi lintas sektor.

“Kalau ada pasien TB dengan rumah tidak layak, kami ingin melibatkan Kementerian PUPR. Karena tidak semua orang memiliki KTP dan BPJS, kami juga akan melibatkan Dukcapil,” jelasnya.

Di sisi lain, dr. Donald Pardede menilai bahwa Indonesia perlu memperkuat pembiayaan domestik dan tidak lagi bergantung pada pendanaan global.

“Negara harus mulai mengalokasikan anggaran sendiri. Pendanaan ke komunitas harus dilakukan dengan regulasi yang baik karena perannya sangat signifikan,” tegas Donald.

Dr. Hermawan Saputra menambahkan bahwa meski terdapat potensi pengurangan dana Global Fund pada 2026–2027 hingga 40%, dukungan terhadap Indonesia tetap berlanjut.

“Masih ada potensi dana Rp1,7 triliun dari Global Fund. Tapi pemerintah harus ikut menambah alokasi dan media juga perlu mengarahkan narasi pada kolaborasi eliminasi TB,” katanya.

Baca juga: Bupati Karawang Terima Aspirasi Buruh, Siap Evaluasi Perbup Pemagangan dalam 14 Hari

Sebagai bagian dari rangkaian acara, STPI juga mengumumkan pemenang TB Journalist Fellowship Programme 3.0, yang memberi apresiasi kepada jurnalis dengan karya terbaik dalam mengangkat isu TBC secara berimbang dan humanis. Dari 20 peserta, tiga jurnalis terpilih berhasil menampilkan karya dengan perspektif kemanusiaan yang kuat.

STPI berharap momentum Hari Kesehatan Nasional menjadi pengingat bahwa penanganan TBC bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan seluruh elemen bangsa. (*)