Beranda Headline Pimpinan Ponpes Karawang Kecam Tayangan Trans7 yang Dinilai Lecehkan Ulama

Pimpinan Ponpes Karawang Kecam Tayangan Trans7 yang Dinilai Lecehkan Ulama

17
Program trans7
KH. M. Endang Suratno Wibowo, M.Ed., Pimpinan Ponpes Lestari Alam Qur’ani Karawang, saat menyampaikan sikap atas tayangan televisi yang dinilai menyinggung ulama dan dunia pesantren. (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Pimpinan Pondok Pesantren Lestari Alam Qur’ani Ciranggon Karawang, KH. M. Endang Suratno Wibowo, M.Ed, mengecam tayangan salah satu program televisi nasional Trans7 yang dinilai menampilkan narasi dan candaan tidak pantas terhadap video ulama KH. M. Anwar Manshur, serta menggiring opini negatif tentang dunia pesantren.

Dalam pernyataan resminya, KH. Endang menegaskan bahwa tayangan tersebut telah melukai perasaan umat Islam dan merusak citra pesantren, yang selama ini dikenal sebagai benteng moral, spiritual, dan kebangsaan Indonesia.

“Pesantren bukanlah tempat yang pantas dijadikan bahan olok-olok atau hiburan murahan. Dari pesantrenlah lahir para ulama, pejuang kemerdekaan, dan pendidik bangsa,” tegas KH. Endang, Rabu (15/10/2025).

Menurutnya, dunia hiburan memang memiliki ruang untuk berkreasi, namun kebebasan berekspresi tidak boleh digunakan untuk menghina atau merendahkan simbol keagamaan.

“Kritik boleh saja, tapi harus disampaikan dengan adab dan berdasarkan fakta. Sementara humor pun mestinya tidak menyinggung kehormatan orang lain,” ujarnya.

KH. Endang juga mengajak insan media untuk menjunjung tinggi etika jurnalistik dan tanggung jawab moral, serta menghormati nilai-nilai keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.

Selain mengecam tayangan tersebut, KH. Endang menyerukan agar para santri, alumni, dan simpatisan pesantren tidak terpancing emosi dan tetap merespons secara beradab.

“Marah tidak menyelesaikan masalah, tapi adab akan memenangkan hati dan sejarah,” ungkapnya penuh makna.

Ia menutup pernyataannya dengan doa agar para insan media mendapat hidayah dan memperbaiki kesalahan yang telah terjadi.

“Semoga Allah membukakan hati para pelaku media untuk bertobat dan menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia, bahwa kehormatan ulama dan pesantren bukan bahan candaan, melainkan sumber keberkahan yang harus dijaga,” tutup KH. Endang. (*)