beritapasundan.com – Kekhawatiran masyarakat terhadap beras oplosan semakin meningkat. Sebagai bahan makanan pokok lebih dari 286 juta penduduk Indonesia, beras menjadi komoditas dengan permintaan tinggi yang sering dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan.
Beras oplosan adalah beras yang dicampur dari berbagai jenis dan kualitas berbeda. Bahkan dalam beberapa kasus, pelaku menambahkan zat kimia untuk memanipulasi penampilan dan aroma. Praktik ini tidak hanya merugikan konsumen secara ekonomi, tetapi juga menimbulkan risiko serius bagi kesehatan.
Baca juga: Indef: Fenomena Rojali dan Rohana Cermin Kenaikan Kemiskinan di Perkotaan
Agar tidak tertipu, penting untuk mengetahui ciri-ciri beras oplosan berikut:
1. Warna butiran tidak merata dan terlalu putih.
Beras asli umumnya memiliki warna seragam, sedangkan beras oplosan terlihat campuran, ada yang putih mencolok, kekuningan, atau keabu-abuan. Sebagian pelaku bahkan menambahkan zat pemutih seperti klorin agar beras terlihat putih berkilau.
2. Ukuran dan bentuk butiran tidak konsisten.
Jika dalam satu karung beras terdapat campuran butiran panjang, pendek, dan patah, kemungkinan besar itu adalah beras oplosan.
3. Aroma tidak alami.
Beras asli memiliki aroma lembut, sedangkan beras oplosan cenderung tidak berbau atau memiliki bau menyengat karena diberi pewangi buatan.
4. Tidak ada titik putih di tengah butiran.
Pada beras berkualitas seperti pandan wangi, terdapat titik putih alami di tengah butiran. Pada beras oplosan, ciri ini sering hilang akibat pemutihan.
5. Nasi menjadi lembek dan tidak pulen.
Tekstur nasi dari beras oplosan cenderung benyek dan mudah hancur.
6. Tampak mengkilap berlebihan.
Pada saat dicuci, air berubah warna atau berbusa, menandakan adanya zat kimia tambahan.
7. Daya simpan lebih pendek.
Beras oplosan biasanya lebih cepat berbau, lembap, dan berjamur.
Baca juga: BPS: Kemiskinan Nasional Turun, Tapi Kemiskinan Perkotaan Justru Naik di 2025
Bahaya Beras Oplosan untuk Kesehatan
Risiko mengonsumsi beras oplosan bukan hanya pada rasa atau tampilan. Berikut dampak yang wajib diwaspadai:
1. Paparan klorin dan bahan pemutih.
Zat kimia ini bersifat toksik dan bisa merusak organ hati dan ginjal jika dikonsumsi jangka panjang.
2. Kandungan nutrisi berkurang.
Proses pemutihan merusak vitamin B kompleks dan mineral pada beras, sehingga hanya menyisakan kalori kosong yang berisiko memicu penyakit metabolik.
3. Kontaminasi mikroorganisme dan jamur beracun.
Beras oplosan dari stok lama berisiko mengandung aflatoksin, racun berbahaya yang dapat memicu kanker hati.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih jeli saat membeli beras. Pilih penjual terpercaya dan periksa kondisi beras secara teliti untuk menghindari beras oplosan yang bisa membahayakan kesehatan keluarga. (*)














