Beranda Headline Warga Kiarajaya Karawang Tagih Janji Gubernur Dedi Mulyadi Soal Akses Air Bersih

Warga Kiarajaya Karawang Tagih Janji Gubernur Dedi Mulyadi Soal Akses Air Bersih

17
Ratusan warga Kampung Kiarajaya, Desa Margamulya tagih janji Gubernur Dedi Mulyadi soal akses air bersih (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Ratusan warga Kampung Kiarajaya, Desa Margamulya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, kembali menagih janji akses air bersih yang pernah dilontarkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pasalnya, sudah lebih dari 20 tahun mereka hidup dalam krisis air bersih, namun belum ada tindakan nyata dari pemerintah.

Ketua RT setempat, Siti Fadilah, mengungkapkan bahwa dirinya pernah menyampaikan langsung keluhan tersebut kepada Dedi Mulyadi pada 27 Maret 2025 saat kunjungan ke Area Aspirasi Karawang Internasional Industrial City (KIIC).

Baca juga: 20 Tahun Krisis Air Bersih, Warga Margamulya Karawang Hidup dari Sumur di TPU

“Saya memohon langsung kepada Kang Dedi agar warga bisa mendapat air bersih. Beliau berjanji dalam satu bulan air akan mengalir. Tapi sampai sekarang, belum ada air bersih yang masuk,” kata Siti sambil menahan tangis, Jumat (27/6/2025).

Warga Kiarajaya, lanjutnya, terpaksa mengantre air dari satu-satunya sumur yang terletak di tengah tempat pemakaman umum (TPU). Selain tidak layak konsumsi, airnya juga terasa asin dan keruh.

“Sampai hari ini belum pernah ada bantuan dari pemerintah, baik dari kabupaten maupun provinsi,” imbuhnya.

Dedi Mulyadi Pernah Janji Saluran Air Bersih dari Tarum Barat

Dalam video yang sempat viral, Dedi Mulyadi menyatakan bahwa warga Kiarajaya seharusnya bisa mendapat akses air dari saluran Tarum Barat, melalui kerja sama dengan pihak KIIC.

“Bisa nggak air bersih dari Tarum Barat juga dirasakan warga? CSR perusahaan sebaiknya menyasar kebutuhan dasar, seperti air bersih,” ucap Dedi kala itu.

Pihak KIIC saat itu menyatakan kesiapan membangun pipa air yang mengarah ke desa. Namun, sampai hari ini, realisasinya belum terlihat.

Warga Kembali Menagih, Hidup dari Air Sumur dan Beli Tangki

Cayem (52), salah satu warga, mengatakan mereka kerap membeli air tangki karena pasokan air tak memadai. “Dari BPBD belum pernah ada bantuan air. Kalau beli tangki, satu tong isi 1.000 liter harganya Rp50 ribu, itu pun cuma cukup 3 hari,” jelasnya.

Baca juga: Imigrasi Karawang Perluas Program Desa Binaan ke Purwakarta

Warga berharap pemerintah tidak menutup mata atas kondisi ini. Mereka meminta akses air bersih segera direalisasikan, sesuai janji yang sudah diucapkan langsung di hadapan publik.

“Kami sudah terlalu lama menderita. Setiap musim kemarau kami harus mengantre air di pemakaman, bahkan ada yang bangun jam 1 pagi,” tutur Siti. (*)