Beranda Headline Janji 1.000 Rumah Panggung untuk Karangligar Dipertanyakan Warga

Janji 1.000 Rumah Panggung untuk Karangligar Dipertanyakan Warga

13
Rumah panggung Karangligar
Tokoh masyarakat Karangligar, Alvino (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Janji Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk membangun 1.000 rumah panggung bagi warga terdampak banjir di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, kini mulai dipertanyakan masyarakat.

Tokoh masyarakat Karangligar, Alvino, menilai janji pembangunan 1.000 rumah panggung yang disampaikan saat kunjungan sebelumnya terkesan tergesa-gesa dan tidak melalui kajian mendalam. Ia meminta Gubernur Jabar lebih bijak dalam menyampaikan komitmen kepada warga.

Baca juga: DPRD Karawang Desak DLH Jabar Tindak Pencemaran Sungai Citarum

“Harusnya seorang pemimpin itu dengar dulu keluhan warga, lalu dikaji. Tanyakan ke TPAD dulu, ada nggak anggarannya. Karena Jawa Barat bukan cuma Karawang, jangan asal janji,” ujarnya kepada tvberita pada Selasa, 24 Juni 2025.

Hanya 35 Rumah Panggung Direalisasikan, Warga Kecewa

Masyarakat Karangligar yang rutin terdampak banjir merasa kecewa karena informasi yang mereka terima menunjukkan bahwa hanya 35 unit rumah panggung yang akan direalisasikan. Hal ini sangat jauh dari jumlah yang dijanjikan, yakni 1.000 unit.

“Saya dapat kabar dari PRKP, yang tembus hanya 35 rumah panggung. Padahal janjinya 1.000 unit. Ini pasti menimbulkan kecemburuan sosial antarwarga,” lanjut Alvino.

Menurutnya, jika realisasi rumah panggung hanya sebagian kecil, maka lebih baik Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan dana untuk membangun shelter terpadu bagi korban banjir.

“Daripada cuma 35 unit yang dibangun, lebih baik bikin shelter banjir. Gedung evakuasi yang bisa menampung banyak warga saat banjir, dilengkapi dapur umum, tempat tidur, dan fasilitas bersama. Itu solusi nyata,” tegasnya.

Baca juga: Demo ODOL Picu Lonjakan Harga Sayur di Pasar Baru Karawang

Permintaan Transparansi dan Solusi Nyata dari Pemerintah

Alvino berharap, pemerintah tidak hanya memberikan janji pembangunan rumah panggung sebagai wacana politik semata. Ia menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan transparansi anggaran agar tidak mencederai kepercayaan masyarakat.

“Jangan gengsi untuk koreksi kalau janji nggak bisa direalisasikan. Masyarakat cuma ingin solusi, bukan janji politik kosong,” pungkasnya. (*)