beritapasundan.com – Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah anak-anak yang menyipitkan mata saat melihat papan tulis, mengalami kesulitan melihat objek jarak jauh, dan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar terus meningkat. Hal ini menandakan bahwa dunia tengah menghadapi krisis miopia di kalangan anak-anak.
Miopia, juga dikenal sebagai rabun jauh, kini menjadi salah satu gangguan penglihatan yang paling umum pada anak-anak. Apa sebenarnya yang menyebabkan miopia, dan bagaimana cara mengelola atau bahkan mencegahnya?
Baca juga:Â Kekurangan Ruang Kelas, SDN Palumbonsari IV Karawang Terapkan Belajar Dua Shift
Mengutip Times of India, Dr. Kavita Vadi, Konsultan Dokter Mata sekaligus Kepala Layanan Klinis di Rumah Sakit Mata Dr. Agarwals, Mysore, India, menjelaskan bahwa miopia adalah kondisi di mana seseorang dapat melihat objek dekat dengan jelas, tetapi objek yang jauh terlihat kabur. Ini terjadi akibat gangguan refraksi, biasanya dimulai pada masa anak-anak dan bisa berlanjut hingga remaja.
Penyebab dan Faktor Risiko Miopia
Beberapa faktor dapat memicu perkembangan miopia. Faktor genetik memiliki peran besar—risiko meningkat signifikan jika kedua orang tua memiliki kondisi yang sama. Selain itu, kebiasaan seperti membaca terlalu lama, bermain gawai secara berlebihan, dan kurangnya aktivitas luar ruangan juga menjadi pemicu utama.
“Anak-anak zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, menatap layar atau membaca dalam jarak dekat. Hal ini dapat meningkatkan risiko kelelahan visual dan mempercepat perkembangan miopia,” jelas Dr. Kavita.
Baca juga:Â BI Jabar Dukung Digitalisasi Sistem Ekonomi Tradisional
Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai
Beberapa tanda awal miopia yang perlu diwaspadai oleh orang tua antara lain:
- Penglihatan kabur saat melihat objek jauh seperti papan tulis.
- Menyipitkan mata saat mencoba fokus.
- Sering menggosok mata karena ketidaknyamanan.
- Memegang benda sangat dekat dengan wajah saat membaca atau menonton.
Cara Mengelola dan Mencegah Miopia
Meski miopia tidak bisa disembuhkan secara permanen, berbagai metode dapat membantu memperlambat perkembangannya. Beberapa di antaranya adalah:
- Penggunaan kacamata korektif atau lensa kontak.
- Terapi ortokeratologi (Ortho-K), yaitu penggunaan lensa khusus saat tidur untuk membentuk ulang kornea.
- Tetes mata Atropin dosis rendah, yang terbukti efektif secara klinis.
- Penggunaan kacamata multifokal untuk memperlambat perkembangan miopia.
Baca juga:Â 13 Kecamatan di Karawang Siap Layani Pembuatan Akta dan Dokumen Kependudukan
Perubahan gaya hidup juga sangat penting. Anak perlu didorong untuk:
- Bermain di luar ruangan selama 90–120 menit setiap hari.
- Mengurangi waktu layar dan mengikuti aturan 20-20-20 (setiap 20 menit menatap layar, istirahat 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki).
- Belajar di ruangan dengan pencahayaan yang baik.
- Melakukan pemeriksaan mata tahunan, bahkan jika tidak ada gejala.
Miopia adalah kondisi seumur hidup yang perlu dikelola sejak dini. Intervensi tepat dan kebiasaan sehat dapat membantu menjaga penglihatan anak-anak tetap optimal. Kesadaran orang tua dan dukungan dari lingkungan sekitar sangat penting untuk mencegah miopia semakin meluas. (*)














