KARAWANG – Akademisi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Dikdik Baehaqi Arif, M.Pd, menekankan pentingnya penguatan wawasan kebangsaan bagi generasi muda di tengah era digitalisasi. Fenomena generasi yang kurang memahami sejarah bangsa menjadi perhatian utama dalam wawancaranya di Kampus UBP Karawang, Sabtu, 16 November 2024.
Menurut Dikdik, generasi Z dan Alpha kerap menunjukkan minimnya pemahaman terhadap identitas nasional, seperti nama-nama presiden Indonesia, jumlah provinsi, hingga tokoh-tokoh pahlawan di mata uang rupiah.
Baca juga:Â UBP Karawang Teguhkan Nilai Kebangsaan melalui Kuliah Jatidiri Bangsa
“Di mata uang rupiah itu ada gambar pahlawan. Apakah kita tahu siapa mereka? Apakah kita paham perjuangan mereka? Dibalik itu ada teladan yang harus kita pelajari. Wawasan kebangsaan perlu terus diperkuat,” ujarnya.
Tantangan Era Globalisasi
Dikdik menjelaskan, kemudahan akses informasi di era globalisasi tidak selalu meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap wawasan kebangsaan. Bahkan, arus teknologi sering kali membawa dampak negatif, seperti perilaku konsumtif, ketergantungan pada gadget, dan terjerumus dalam aktivitas berisiko, seperti judi online atau pinjaman daring ilegal.
“Anak-anak sekarang itu no gadget no life. Ketergantungan ini bisa melemahkan daya kritis mereka. Globalisasi memang memiliki sisi positif, tetapi di sisi lain, nilai-nilai lokal bangsa kita bisa terkikis,” tambahnya.
Peran Pendidik dan Teknologi
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Dikdik menggarisbawahi peran penting pendidik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara bijak. Ia menegaskan bahwa pendekatan edukasi harus relevan dan menarik bagi generasi muda.
Baca juga:Â Pj Gubernur Jawa Barat Rapat Koordinasi Bahas Stunting hingga Pariwisata di Karawang
“Pendidik harus pandai menggunakan teknologi untuk mengenalkan wawasan kebangsaan. Semua pihak harus bersinergi demi membangun karakter anak bangsa yang kuat,” tutupnya. (*)














