Beranda Headline 5 Negara Asia Terkenal Rasis di Dunia, Israel Jadi Sorotan

5 Negara Asia Terkenal Rasis di Dunia, Israel Jadi Sorotan

172
Negara rasis
Stop Racism (Foto: Ilustrasi/net.)

beritapasundan.com – Rasisme atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rasis adalah luka lama yang terus menganga di banyak negara atau masyarakat di seluruh dunia, suatu relika dari masa lalu yang terus menghantui masa kini.

Meskipun sudah banyak kampanye dan gerakan untuk menanggulangi kejahatan ini, sayangnya masih banyak warga negara di dunia yang nampaknya masih melancarkan praktik rasisme.

Kejahatan rasial atau rasisme menjadi salah satu kejahatan moral yang sudah sepatutnya tidak boleh dilakukan untuk mendiskriminasi bagi kelompok tertentu.

Hal ini sangat penting karena isu mengenai Suku, Ras, Agama, dan Antargolongan (SARA) sangat sensitif dan berpotensi besar menyebabkan diskriminasi.

Baca juga: Konten AI Akan Diberi Label Otomatis Oleh TikTok

Berikut adalah daftar negara di Asia dengan warga yang paling rasis di dunia yang dikutip dari US News:

Qatar

Qatar yang sangat dikenal sebagai negara paling rasis yang berkaitan dengan perlakuan terhadap pekerja migran.

Qatar memiliki banyak pekerja migran yang sebagian besar berasal dari Asia Selatan dan Afrika.

Ironisnya, para pekerja migran ini sering kali dibayar lebih rendah dari pekerja lain untuk jenis pekerjaan yang sama.

Tidak hanya itu saja, para pekerja migran juga sering dipaksa bekerja hingga 18 jam sehari tanpa libur dan tanpa fasilitas yang memadai.

Meskipun telah ada upaya reformasi dalam beberapa tahun terakhir, praktik-praktik diskriminatif ini masih berlangsung, dengan perlindungan hukum yang masih tidak memadai bagi pekerja migran, khususnya pekerja domestik dan pekerja dengan pendapatan rendah​.

Arab Saudi

Arab Saudi juga sering terlibat dalam kasus rasisme yang berkaitan dengan diskriminasi terhadap minoritas Syiah dan pekerja migran dari negara berkembang.

Salah satu contoh kasus yang menonjol adalah diskriminasi terhadap warga Syiah, yang sering mengalami hambatan dalam membangun tempat ibadah dan mengamalkan kepercayaan mereka.

Kecenderungan ini didukung oleh retorika yang digunakan oleh beberapa ulama dan pejabat pemerintah yang mempromosikan pandangan anti-Syiah, serta kurikulum pendidikan yang memuat materi anti-Syiah (HRW).

Selain itu, Arab Saudi juga memiliki sejarah diskriminasi terhadap pekerja migran, terutama mereka yang berasal dari Asia.

Banyak dari pekerja ini mengalami kondisi kerja yang buruk, penyalahgunaan fisik, dan kadang-kadang tidak dibayar. Kondisi ini diperparah oleh sistem kafala yang membatasi mobilitas pekerja dan membuat mereka sangat bergantung pada majikan mereka, yang kadang-kadang disamakan dengan kondisi seperti perbudakan.

Baca juga: Bmkg Sebut Fenomena Cuaca Panas di Indonesia Bukan Karena Heatwave

Israel

Israel termasuk sebagai negara yang rasis, terutama kepada warga Palestina dan pengungsi Afrika.

Amnesty International melaporkan bahwa kebijakan Israel dianggap mendominasi dan menindas orang Palestina dengan tujuan mempertahankan mayoritas demografis Yahudi dan mengontrol tanah serta sumber daya demi keuntungan warga Yahudi Israel.

Kebijakan ini termasuk hukum yang mendiskriminasi warga Palestina dalam hal hak atas tanah dan kewarganegaraan, serta praktik penggusuran paksa dan pembatasan akses ke sumber daya dasar.

Myanmar

Selanjutnya ada Myanmar yang sering melakukan aksi diskriminatif terhadap kelompok minoritas Rohingya.

Salah satu contoh terburuk dari rasisme di Myanmar adalah kampanye pembersihan etnis terhadap Rohingya yang dilakukan oleh militer Myanmar, atau Tatmadaw.

Pada Agustus 2017, militer melancarkan operasi besar-besaran yang mereka sebut ‘operasi pembersihan’, di mana ribuan orang Rohingya dibunuh, dan hampir 400 desa dibakar, memaksa lebih dari 700.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Baca juga: Ramai Boikot Produk Israel, UMKM Jadi Alternatif Masyarakat

Sri Lanka

Terakhir ada Sri Lanka, salah satu negara yang menghadapi masalah rasisme yang serius, terutama terkait dengan ketegangan antar kelompok etnis dan agama yang berbeda.

Salah satu contoh terbaru adalah kebijakan pemerintah yang mengharuskan jenazah korban COVID-19 dari komunitas Muslim dikremasi, yang bertentangan dengan keyakinan agama mereka yang memilih penguburan.

Kebijakan ini menuai protes luas dan kritik dari berbagai kelompok hak asasi manusia, dan akhirnya kebijakan tersebut dicabut setelah tekanan internasional yang intens. (*)