Beranda Headline 20 Tahun Krisis Air Bersih, Warga Margamulya Karawang Hidup dari Sumur di...

20 Tahun Krisis Air Bersih, Warga Margamulya Karawang Hidup dari Sumur di TPU

8
Margamulya Karawang
Ratusan warga Kampung Kiarajaya, Desa Margamulya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, dilanda krisis air bersih (Foto: Istimewa)

KARAWANG – Ratusan warga Kampung Kiarajaya, Desa Margamulya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, dilanda krisis air bersih yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade. Ironisnya, satu-satunya sumber air yang digunakan warga berasal dari sumur tua yang terletak di tengah Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Pantauan di lokasi, warga tampak antre dan berebut air sejak dini hari. Air dari sumur tersebut tidak layak konsumsi karena berwarna keruh dan terasa asin. Namun, warga tak punya pilihan lain.

“Kalau musim kemarau, kami antre air mulai pukul 1 dini hari. Airnya asin, tapi tetap digunakan untuk mandi dan cuci. Sekitar 500 jiwa bergantung pada air sumur itu,” ungkap Siti Fadilah, Ketua RT setempat, Jumat, 27 Juni 2025.

Baca juga: Gelar Haflatul Akhirussanah, Kepsek Madrasah Bidayatul Hidayah Ingatkan Pentingnya Ortu Mewarisi Ilmu untuk Anaknya

Bertahan Hidup dari Air Hujan dan Galon

Pada musim hujan, warga Margamulya Karawang mengandalkan air hujan untuk kebutuhan rumah tangga. Sedangkan untuk keperluan minum dan memasak, mereka terpaksa membeli air galon.

“Pengeluaran kami bisa sampai Rp500 ribu per bulan hanya untuk beli air minum,” tutur Siti.

Wabah DBD dan Akses Kesehatan Terbatas

Tak hanya krisis air bersih, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) juga menghantui warga. Kondisi lingkungan yang minim sanitasi dan genangan air memperparah situasi.

“Saya dan keluarga baru saja terkena DBD. Akses ke Puskesmas juga jauh. Kami harus ke Puskesmas Wanakerta kalau ingin berobat,” kata Teti, warga lainnya.

Janji Pemerintah Tak Kunjung Ditepati

Warga mengaku belum pernah mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah daerah maupun provinsi. Siti mengatakan, ia bahkan sudah menyampaikan langsung kondisi tersebut kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dan Bupati Karawang.

“Waktu itu Kang Dedi janji saat bulan puasa, tepatnya 27 Maret, bahwa air bersih akan mengalir dalam satu bulan. Tapi sampai hari ini, tidak ada satu tetes pun air bersih yang mengalir,” ujar Siti dengan mata berkaca-kaca.

Warga berharap janji tersebut bisa segera direalisasikan. Menurut mereka, krisis air bersih bukan hanya persoalan sanitasi, tetapi soal hak dasar hidup yang selama ini diabaikan. (*)