
KARAWANG – Banjir Karawang yang terjadi setiap tahun di Dusun Pangasinan, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, telah merendam ratusan rumah sejak 2007. Hingga kini, sekitar 400 rumah terdampak, namun belum ada solusi permanen dari pemerintah.
“Banjir ini sudah 18 tahun terjadi, dan warga kita sudah terbiasa,” ujar Parman, Kepala Dusun 1 Pangasinan, saat ditemui di lokasi, Senin (7/7/2025).
Menurutnya, mental warga sudah teruji menghadapi banjir Karawang setiap musim hujan. Meski pernah dikunjungi tokoh nasional seperti Wakil Presiden Ma’ruf Amin dan Gubernur Jawa Barat, langkah konkret belum juga diambil.
Baca juga: Bawaslu Karawang Serahkan Saran Perbaikan PDPB ke KPU
“Kunjungan itu hanya sebatas melihat. Tapi solusi nyata belum ada sampai sekarang,” tambah Parman.
Banjir terjadi akibat luapan Sungai Cibeet yang tak mampu menampung debit air dari wilayah hulu seperti Purwakarta. Posisi Dusun Pangasinan yang lebih rendah membuat kawasan ini menjadi “mangkuk” air saat hujan deras.
“Kalau air dari atas naik, daerah kami pasti tenggelam,” jelas Parman.
Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebut, selain limpahan sungai, penurunan muka tanah juga jadi pemicu utama. Aktivitas salah satu BUMN di sekitar wilayah diduga ikut memperparah kondisi.
Ketinggian air semakin ekstrem. Pada 2007, air hanya sebatas mata kaki. Namun pada 2024, banjir mencapai 4,5 meter di titik-titik rawan seperti Kampek.
“Kalau dulu Parungsari yang parah, sekarang mereka yang ngungsi ke tempat lebih tinggi. Sekarang kami yang paling terdampak,” katanya.
Warga Dusun Pangasinan sebenarnya tidak menolak relokasi, namun terbentur persoalan ekonomi. Dengan NJOP hanya sekitar Rp120.000 per meter, mereka sulit membeli tanah di lokasi lain.
“Kalau ada relokasi dan ditanggung penuh, mungkin kami mau. Tapi kenyataannya nggak semudah itu,” ujar Parman.
Baca juga: BKPSDM Karawang Sosialisasikan Aplikasi Simpelin untuk Permudah Pensiun ASN
Ia menegaskan bahwa solusi teknis sebenarnya ada, seperti pembangunan pintu air di hulu Cidawolong atau normalisasi Sungai Cibeet.
Meski demikian, warga Dusun Pangasinan memilih bertahan dan menyesuaikan diri. Perabot rumah diganti plastik, tak lagi memakai sofa, lemari kayu, atau meja besar.
“Mereka bukan enggan pindah, tapi sudah nyaman di tanah kelahiran. Hidup berdampingan dengan banjir Karawang adalah bentuk adaptasi,” tutupnya. (*)













